BROMO, Antara jalur Tumpang dan Senduro


tumpang08

Setelah merasakan pintu masuk Bromo melalui Probolinggo dan Tumpang, hari minggu lalu (9/9) saya berkesempatan mencoba pintu Lumajang. Berarti tinggal pintu Pasuruan yang belum saya jajal. Bersama 3 rekan instruktur lain saya menggunakan waktu luang libur pelatihan di hari Minggu untuk kembali bermain di sebuah destinasi wisata alam paling menakjubkan milik Jawa Timur. Tak banyak perencanaan detil akhirnya pukul 6 pagi kami start dari UMM Inn menuju jalur Tumpang yang pagi itu masih sepi dari pengguna jalan. Di jalur kepulangan kami mengambil jalur Lumajang untuk kemudian bergerak ke Piket Nol dan kembali ke Malang via Turen dan Dampit. Apa beda nya jalur Tumpang Malang dan Senduro Lumajang ?

JALUR TUMPANG MALANG
Jalur ini menyediakan perjalanan lintas alam menarik melewati desa Ngadas. Jalur kanan dan kiri tersedia penampakan perbukitan hijau serta menawarkan wisata air terjun Coban Pelangi. Jalur ini saya nikmati pertama kali saat ekspedisi 2Ride7 mid Mei lalu. Kontur jalan yang berkelok dengan berbagai macam variasi kontur jalan menawarkan sensasi tersendiri.

tumpang07

Jalur baru terpecah ketika ditemui persimpangan yang memisahkan jalur ke kiri menuju savana Bromo dan jalur ke kanan menuju Ranu Pane. Pada saat kami datangi cuaca sedang sangat bersahabat cenderung panas dan kering, efeknya membuat lautan pasir semakin gembur dan lingkungan yang hijau tampak sedikit gersang.

Bromo yang memang tidak pernah habis menawarkan keindahannya seolah mampu menyuntik semangat petualangan bagi mereka yang mengunjunginya.

Berikut tangkapan gambar saat di jalur Tumpang Malang dan savana Bromo.

tumpang10

tumpang09

tumpang11

tumpang01

tumpang02

tumpang03

tumpang04

tumpang05

tumpang06

JALUR SENDURO LUMAJANG
Jalur ini praktis menjadi akses bagi pengunjung yang datang dari selatan yaitu Lumajang. Dari savana naik menuju persimpangan ke arah Ranu Pane inilah jalur Senduro dimulai melewati bukit tertinggi Jemplang lalu masuk ke wilayah Ranu Pane, jalur hanya ada satu jadi cukup mudah untuk mengikuti jalan hingga sampai keluar di Lumajang tepatnya persis di depan SDN 01 Senduro.

Catatan khusus soal keberadaan Ranu Pane, saya sedikit kecewa dengan apa yang saya lihat karena jauh dari ekspektasi saya. Keberadaan danau kecil yang di ujung atas nya terdapat pura yang masih aktif tetap tidak mampu memberi kesan indah di mata saya selain jalan yang memang murni adventourous. Terlepas dari kekecewaan tersebut perawatran daerah Ranu Pane patut di apresiasi karena bisa menjadi pemberhentian lepas lelah bagi pengunjung yang datang dari arah Lumajang sebelum benar-benar naik ke Bromo.

tosenduro02

tosenduro03

Berikut tangkapan gambar saat di jalur Senduro Lumajang.

tosenduro04

tosenduro05

tosenduro06

tosenduro07

tosenduro08

Di banding jalur Tumpang, jalur Senduro saya pikir lebih menarik yaitu lebih teduh, lebih hijau, lebih memiliki variasi jalan serta lebih misterius. Berbeda dengan jalur Tumpang yang lebih berdebu meski lebar jalannya lebih lebar. Tak heran kami sempat berhenti beberapa kali untuk mengabadikan gambar untuk selanjutnya saling susul menikmati jalur jalan yang super menarik. Mulai dari bebatuan, beton, tanah hingga variasi jalan berlubang.

Di akhir jalur Senduro akhirnya kami melalui jalur kota Lumajang lalu bergerak ke Piket Nol hingga Turen serta Dampit dan berakhir di kota Malang dari sisi selatan.

Buat pejalan bermotor silakan maksimalkan semua pintu masuk Bromo untuk memperluas pengalaman petualangan bermotor anda. Dijamin terpuaskan.

Anda pilih jalur mana ? Jauh ? … Pasti. Tapi untuk memuaskan petualangan bermotor anda maka hitungan 60 km saja bukan angka yang jauh kan ?

Satu hal, melihat kontur jalan yang sebenarnya tidak bersahabat maka opsi menarik soal jelajah Bromo adalah dengan menggunakan kendaraan roda dua trail sewaan ketimbang memaksakan kendaraan pribadi dengan segala keterbatasan kemampuannya. Sewa dimana ? Next artikel ya 🙂

tosenduro01

Advertisements

About this entry