Day One #2Ride7Adv


d1_003

Akhirnya kesampaian juga .. terhitung dari 15 hingga 27 Mei kemarin saya dan rekan Hendrawan (Kang One) berkesempatan melakukan perjalanan Jawa-Bali-Lombok dalam sebuah project 2Ride7 Adventures. Project apa ya ? Sedikit berbicara project bahwa perjalanan ini adalah sebuah usaha kami berdua mengenali sudut lain Nusantara serta menyuarakan semangat aman berkendara dalam tajuk “2Ride7 : Motorcycle Safety Adventures”. Tentang apa sih ? Ikuti saja cerita berikut.

Itinerary pertama meng agendakan saya dan partner melakukan perjalanan bersama via jalur udara pada 17 Mei sementara motor sudah di paketkan beberapa hari sebelumnya. Tapi kesiapan equipment dan instalasi braket D Tracker 250 yang sedikit molor membuat saya tidak bisa memaksakan jalan sesuai agenda.

Masa paket sudah lewat dan hanya satu motor saja (Honda New Mega Pro) yang berhasil bergerak lebih awal dengan tujuan Kuta Bali. Motor partner saya menggunakan jasa Pahala Express yang juga adalah tempat bekerja rekan KHCC kenalan kami, bro Aqiel.

Sadar saya tidak akan sempat memaketkan sepeda motor maka saya putuskan mengejar via darat dengan waktu berangkat lebih awal yaitu pada 15 Mei pagi dengan tujuan pertama Salatiga.

Persiapan maksimal coba saya lakukan di waktu yang sangat minim. Yang paling utama jelas kesiapan fisik dan mental, baik saya pribadi maupun kendaraan. Dalam masa persiapan kendaraan akhirnya saya memutuskan untuk meminta penggantian part kanvas rem depan dan belakang karena saya rasakan ada sedikit masalah di sektor ini. Sektor lain seperti busi, rantai, sistem injeksi dan kelistrikan dinyatakan sehat.

D TRACKER X
Khusus Kawasaki D Tracker 250. Kendaraan ini saya dapatkan dari dealer Kawasaki Kawansakti pimpinan pak Albert, sosok ramah yang selalu antusias bicara event otomotif. Dari pengajuan awal dua kendaraan pihak Kawasaki hanya menyanggupi satu unit saja dan ini pun saya harus syukuri karena ini juga sebagai pembuka pintu event-event perjalanan selanjutnya.

d1_007

Impresi awal soal unit ini adalah bentuk tegapnya serta ajegnya kendaraan saat dibawa dalam kecepatan yang cukup tinggi. Ber kapasitas murni 249 cc 1 silinder saya rasa lebih dari cukup dengan performa standar mengingat banyaknya sindiran bahwa kapasitas nya tidak segarang suara yang dikeluarkan.

Kapasitas bensin 7.3 liter nya saya siasati dengan pengisian bensin setiap hitungan 100 km. Dengan hitungan ini di hari pertama saya mengisi ulang tangki di Kandanghaur, Tegal dan Semarang. Cukup boros jika minuman yang ditenggak adalah Pertamax, apa boleh buat 🙂

Yang benar-benar menjadi fitur oke dari D Tracker 250 tak lain adalah suspensi nya, ber modal garpu teleskopik di depan dan monoshock di belakang perjalanan menjadi lebih tenang terutama saat harus melibas kontur jalan yang tidak rata di berbagai titik Pantura. Berat kosong nya yang mencapai 139 kg memang awalnya terlihat menakutkan apalagi setelah saya pasang satu tank bag, dua shroud bag, serta dua dry bag di buritan plus bawaan tas P3K dan matras berkemah, ternyata tidak mengkhawatirkan karena pengendalian bisa saya kontrol dengan sempurna.

PANTURA OH PANTURA
Jalur ini memang tidak bisa diharapkan menyuguhkan panorama indah. Kota-kota sibuk plus jalur jalan yang cenderung monoton dan membosankan membuat perjalanan harus dinikmati sebisanya. Tak kurang dari kawasan lepas Cikampek suasana perjalanan bergerak monoton menyambut Pamanukan, Cirebon bahkan hingga masuk Brebes dan Tegal.

d1_005

d1_001

Belum lagi proyek tambal sulam aspal yang dikerjakan sepanjang Pantura membuat pergerakan sedikit tidak mulus. Untungnya secara umum tidak mengganggu durasi jalan. Bayangkan kalo proyek tambal sulam ini masih belum beres saat agenda mudik Lebaran Agustus nanti. Dijamin mengacaukan lalu lintas Pantura.

Pengamatan lain yang saya lakukan adalah soal perilaku pengguna jalan di lintas Pantura.

d1_006

d1_002

Sorotan utama jelas perilaku masuk ke badan jalan dan menyeberang seenaknya tanpa menghitung kadar bahaya kendaraan yang tengah melintas. Ketiadaan prosedur cek kanan-kiri membuat pergerakan pengguna jalan Pantura semakin membahayakan. Faktanya lintasan Pantura doyan menelan korban dengan berbagai macam tipe kecelakaan lalu lintas.

BOYOLALI INSTEAD OF SALATIGA
Maksud hati mengejar sore masuk Salatiga-Ambarawa ternyata keadaan berkata lain. Akhirnya saya berhenti dan menginap di Boyolali sekitar pukul 20.00. Terlampau malam kalau saya memaksakan naik ke Ambarawa dengan lalu lintas yang dijamin sudah sepi karena harus naik ke kaki gunung Gajah, gandengan dari gunung Telomoyo.

Safety first. Agenda perjalanan hari pertama saya hentikan di kota Boyolali, kota yang punya pariwisata di daerah Tlatar hingga Banyudono serta titik peristirahatan pendakian Merapi di wisata alam Selo. Plus tentunya Kedung Ombo yang menjadi bendungan terbesar di Jawa Tengah.

d1_004

Ok .. itu sedikit catatan di hari pertama perjalanan dan tunggu cerita berikutnya ya.

Twitter @2Ride7 or #2Ride7Adv

Advertisements

About this entry