Apa yang Bisa Kita Perbuat? Tidur?


image

“Apa yang bisa kita perbuat?”, sebuah pertanyaan mendasar mengejar semangat keselamatan jalan. Jumat, 19 Agustus 2011 rekan RSA (Road Safety Association) menggelar diskusi bersama yang dihadiri oleh member-member komunitas sepeda motor bersama H. Djan Faridz -anggota DPD RI Perwakilan Prov. DKI Jakarta- sebagai tuan rumah sekaligus pembicara. Plus, praktisi kesehatan dr. Andreas yang punya spesialisasi dalam hal berkaitan dengan tidur, menarik.

Yang membuat saya tertarik bukan pada tema besarnya soal keselamatan jalannya, melainkan materi kedua seputar “tidur”.

Praktis tema “tidur” menjadi menarik jika dihubungkan dengan hal berkendara, kelelahan (fatique), sampai model antisipasinya. Sudah jadi kebiasaan di beberapa tempat bahwa agenda turing bagi klub motor kerap dilakukan pada malam hari. Faktanya, kegiatan ini sangat beresiko. “Jangan melakukan aktifitas pada saat tubuh kita hendaknya dalam periode istirahat (malam)”, papar dr. Andreas yang kerap nge-tweet dengan id @IDTidurSehat.

Secara ideal tubuh harus di istirahatkan dengan 6 jam tidur sebelum melakukan perjalanan. Tentu dengan sifat tidur yang berkualitas yaitu tanpa gangguan dan tidak ber ulang kali terbangun. Perjalanan yang dilakukan pun harus diselingi oleh break tidur begitu tanda-tanda kantuk mulai terlihat.

Tandanya?

– Buyar konsentrasi,
– Mata berat,
– Kerap mengerjapkan mata,
– Pikiran menerawang,
– Sulit menjaga kepala dalam posisi tegak,
– Melanggar marka jalan dan rambu-rambu,
– dan lain sebagainya.

Coba ikuti (follow) Twitter @IDTidurSehat untuk mendapatkan info menarik. Nah, buat penikmat perjalanan panjang atur kembali manajemen perjalanan serta periode istirahat. Jangan memaksakan diri dan ingat untuk TIDUR.

Ya begitulah kira-kira yang dapat saya tangkap, selanjutnya saya harus banyak konsultasi dengan pria berkacamata dr. Andreas ini.

Thanks to rekan RSA yang telah menciptakan media berbagi ilmu. Good luck on every campaign. Ride and drive safely.

Advertisements

About this entry