(3) Pulang .. Purwokerto ke Bekasi


pwtbks02

Berikut adalah catatan terakhir perjalanan 3 hari saya bersama pasangan mengunjungi Dieng. Sabtu 4 Juni 2011 pagi-pagi sekali saya memutuskan pulang menuju kembali ke Jakarta. Semua perlengkapan sudah masuk box dan memang seperti perjalanan-perjalanan lain, barang bawaan akan tampak bertambah. Bertambah karena pisahan pakaian kotor dan tentu saja oleh-oleh khas daerah yang dikunjungi. Sepertinya kudu menambah box samping plus menambah aroma turing-adventure di Kawasaki KLX 150 saya.

Pagi itu kabut masih menyelimuti kota Sokaraja. Pukul 6 cukup tepat bagi saya untuk memulai perjalanan meninggalkan Hotel Astro Sokaraja tempat kami menginap. Rute mengambil jalur menuju Tegal menuju Pantura. GPS Garmin yang saya bawa kebetulan kehabisan baterai pagi itu dan saya rada malas mampir toko untuk cari baterai, jadilah perjalanan berbekal plang jalan penunjuk arah menuju Tegal. Plus jika kepepet masih ada panduan GPS dari ZTE Light Tab yang juga saya bawa.

Rute kepulangan ini praktis melewati Karanglewas, tempat dimana museum Panglima Besar Jendral Sudirman berada. Tempatnya cukup sejuk jika dipandang dari luar. Tampak museum nya berdampingan dengan sungai Logawa. Patung belaiu tampak megah berdiri di depan museum. Sayang saya tidak sempat mengunjungi dan hanya sekedar lewat saja. Di jalur ini pula saya menemukan grup riding rekan-rekan pengguna CB100. 5-6 motor tampak bergerak cepat menyusuri jalan yang pagi itu sudah cukup padat namun lancar.

Perjalanan berlanjut melewati Bumiayu menuju Margasari. Awalnya saya hendak mengarahkan kendaraan ke Tegal tapi peta menunjukkan arahnya menjauh dari arah yang harusnya bisa dipangkas untuk menuju Brebes. Jadilah saya mengambil arah Brebes ketimbang menuju Tegal. Di Tegal awalnya saya hendak mengajak pasangan mencicipi wisata kuliner khas Tegal yaitu Nasi Lengko hingga Kupat Glabed. Mmmm … so Yummy tapi okelah saya coret dulu menu tadi dan memilih memangkas jalan.

Arah berlanjut menuju pinggiran Brebes dengan jalur yang cukup teduh karena dihiasi pepohonan dan hutan-hutan kecil di sisi jalan. Di jalur ini pula ternyata bis besar juga menjadi pemilik rute ini. Lagi-lagi harus awas dengan keberadaan bis-bis antar kota seperti ini. Setelah beberapa kali break singkat akhirnya kami menepi makan siang di daerah Jatibarang, nah Jatibarang yang ini bukan yang di Indramayu lho melainkan Jatibarang-Brebes. Kota kecil tapi terlihat sangat padat dengan aktifitas ekonominya.

pwtbks03

pwtbks04

Hawa Pantura sudah kentara di jalur ini dengan kondisi alam yang cukup panas cenderung gersang. Jalur pepohonan yang saya lewati sejak tadi usai sudah dan kini santapan berikutnya adalah hawa panas dan kesibukan khas Pantura. Jalur Jatibarang-Brebes saya lanjutkan tanpa masuk ke kota Brebes yang kabarnya tengah ada kemacetan total akibat pembangunan jembatan. Karena kabar itulah saya mengambil jalur jalan dengan panah menuju Cirebon. Jalan ini nantinya memecah apakah kita menggunakan opsi melalui Kuningan menuju Cirebon atau masuk sedikit di luar kota Brebes dan masuk lagi ke perbatasan menuju kota Cirebon. Saya memilih opsi kedua.

Lepas dari Brebes menuju perbatasan perjalanan sudah bisa ditebak karena sudah masuk jalur pantura. Beruntung jalanan lengang menyisir jalur kereta api hingga masuk ke kota Cirebon. Di Cirebon ini pula saya berhenti lagi di salah satu pom bensin apik yang dilengkapi dengan arena makan dan bermain. Lokasinya persis di sebelah kanan Giant Cirebon. Cafe kecil ini dihuni 3-4 toko makanan cepat saji dengan opsi minum teh, makan bakso hingga menu empal gentong dll.

pwtbks05

pwtbks06

Sisanya adalah perjalanan menjemukan rute Pantura menyisiri Cirebon, Pamanukan hingga Cikampek dan seterusnya Karawang dan Bekasi. Di jalur ini saya dan pasangan tercinta menepi di restoran Pringsewu Indramayu. Catatan soal Pringsewu ini adalah eksistensi oke nya soal penempatan restoran di jalur Pantura. Siapa yang tidak bakal melihat plang-plang kuning besar mengarahkan pengguna jalan untuk mampir makan di Pringsewu. Menunya cukup lezat dan di saat-saat sibuk dan waktu liburan resto ini menerapkan sistem prasmanan untuk memangkas antrian pesanan yang masuk ke dapur resto.

pwtbks07

Perjalanan dilanjutkan hingga akhirnya sampai kembali di rumah sekitar pukul 8 malam. Saya harus acungi dua jempol untuk pasangan saya yang dengan hati riangnya mencicipi perjalanan lebih dari 300 km. Meski baru bergabung di Purwokerto tapi kekuatannya menemani sepanjang perjalanan Dieng hingga kembali ke Bekasi sungguh membuat saya bahagia. Dua jempol untuk wanita cantik yang satu ini.

meandher

Well that’s it … di akhir tulisan saya ucapkan terima kasih pada beberapa pendukung perjalanan seperti :

  • Ridingware RESPIRO yang menyediakan unit Rain Jacket plus celananya dan 2 Wind Jacket (pria-wanita). Perlengkapan jaket nya sungguh sesuai dengan tema perjalanan dimana kepraktisan menjadi modal utama dan ketangguhannya meladeni medan sepanjang turing Dieng ini. Respiro yang asli hasil karya anak negri melalui dedikasi mas Arief Utomo sukses menjadi andalan.
  • Safety Apparel 7Gear. Untuk perjalanan ini saya menggunakan mini tankbag untuk menyimpan ponsel hingga tablet pc dan pernik kecil lain. Untuk sepatu saya menggunakan versi Long Boots. Plus jaket turing ala Long Way Down versi prototype. Thanks to bro Adet.
  • Pelumas Pertamina Enduro 4T Racing. Sepertinya pelumas ini berperan aktif memberikan kelancaran akselerasi karena pada trek-trek panjang KLX 150 mudah mencapai kecepatan lebih tinggi dengan pergerakan transmisi yang halus. Thanks to mas Feri dari Pertamina Pelumas.
  • KAWASAKI KLX 150 S. A Superb Ride …….

Dan sekali lagi … tentunya .. big thanks and applause untuk pasangan perjalanan saya yang telah memberikan sensasi tersendiri sepanjang aktifitas turing Dieng. Katanya setelah ini dia ingin mencoba jalur Ujung Genteng. Oke deh ……

(Ends … see you on my next trip)

pwtbks01

Advertisements

8 thoughts on “(3) Pulang .. Purwokerto ke Bekasi”

  1. bagus om, meski sy jarang koemnt di sini tp pasti sy baca klo udah urusan jalan2 bawa motor, btw skrng udah jarang pke yg pelindung kaki atau siku itu ya? 😀 ada alasan khusus?

  2. hehe…emang enak touring bareng pasangan tercinta… 😀
    perjalanan singkat pun kadang di lama2in.. :mrgreen:
    ane waktu mudik tahun lalu, biasanya bawa motor bertiga sama si kecil..tahun lalu si kecil ikut neneknya di mobil, jadi ane sama istri naik motor….seneng banget..berasa kayak pacaran lagi..padahal ujan2an…hehehehe

  3. marai pingin… 😦
    kalo jarak masih di bawah 200km masih mau, lebih dari itu dia pilih yg rodanya banyak..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s