Masukan perihal konvoi buat para ATPM


konvoi

Wah ternyata ada hal ‘menyakitkan’ terjadi saat rekan-rekan blogger KoBOI (Komunitas Blogger Otomotif Indonesia) test ride PCX sabtu kemarin (26/6), di saat yang sama saya tengah bertugas membenamkan semangat baru kampanye aman berkendara di daerah Cibitung -asik … main dan dibayar pula-. Menurut cerita yang beredar di milis KoBOI terjadi aksi pengawalan saat konvoi PCX, di lain milis muncul lagi aksi pengawalan yang sama tak perlunya, kali ini konvoi Scoopy. Kaget, pengawalan ber suasana arogan ini hadir dari ATPM kesayangan, Astra Honda Motor. Meski tidak terlibat langsung maka ijinkan saya memberi masukan.

Tak perlu masuk ke ranah hukum, kalaupun mau ditengok aturannya ada di UU Lalu Lintas no.22 tahun 2009 Pasal 287 ayat 4. Itu dasarnya jika memang mau dilihat dari sisi peraturan. Saya tak akan berbicara banyak soal hukum karena Indonesia tidak mengenal jelas apa itu hukum, apa itu peraturan. Mari bicara kenyamanan.

Sesungguhnya pengawalan untuk mencari kenyamanan dan keteraturan itu diperlukan. Tapi tidak dengan suara-suara bising sirine dan nyala lampu strobo yang seolah-olah menjadi tanda perintah minggir bagi pengguna jalan lain.

Mari posisikan diri :

  • Saya sebagai peserta konvoi ber sirine … dulu saya menikmati karena jalur jadi bebas lengang. Ga perlu susah payah blok sana-sini karena jalan sudah demikian lapang terbuka.
  • Saya sebagai pengguna jalan lain … tiba-tiba risih dan terpaksa memberi jalan tanpa perlu adu urat, paling hanya bisa berdoa agar konvoi selamat.

Kini …. saya berusaha keras menghilangkan aksi berbau arogansi tadi. Komunitas terdekat (KHCC) sudah saya anggap sukses karena tidak ada lagi penggunaan aksesoris berlebihan yang ber potensi mengganggu kenyamanan pengguna jalan lain. Dengan menghilangkan arogansi yang timbul adalah kenikmatan menikmati sebuah perjalanan.

Kembali ke soal konvoi dari pihak Honda di atas. Idealnya pada event-event selanjutnya, baik test ride, konvoi turing, atau apapun mulailah untuk menghilangkan aksi pengawalan bernuansa arogan. Jika mencoba berpikir positif, mungkin pihak pabrikan hanya meng instruksikan untuk melakukan pengawalan terhadap pemimpin konvoi. Mengenai aksi di lapangan semua diserahkan ke pemimpin konvoi. Di sinilah hadir potensi sosok-sosok pencari jati diri yang sedemikian rupa melakukan modifikasi pada tunggangannya mengarah kepada bentuk pemimpin konvoi sebenarnya, baca: polisi dan rekan-rekan.

Di sinilah kegagalan individu pemimpin konvoi dalam mengejawantahkan perintah. Pihak penyewa mengharapkan konvoi berjalan tanpa gangguan maka pada implementasinya interpretasi bergerak liar. Segala cara di halalkan demi mencari kenyamanan rombongan konvoi ketimbang bersikap empati terhadap pengguna jalan lain.

Gerakan konvoi dapat diatur sedemikian rupa dan ini sangat bergantung pada intelektualitas pemimpin konvoi. Saya pribadi malah berani menantang mereka berdiskusi untuk mencari cara konvoi yang aman dan nyaman buat semua. Apalagi dengan tajuk test ride, tes kendaraan tidak akan maksimal jika test rider tidak dibebankan kondisi riil lalu lintas.

Di luar konteks test ride, ada lagi cara pamer produk, biasa dilakukan show of force demi menarik mata pengguna jalan lain untuk melihat. Ini pun sangat bisa di siasati tanpa harus mengeluarkan bebunyian tak berarti.

Saya yakin -mudah2an benar- bahwa pihak penyewa hanya memberi instruksi dasar saja. Implementasi di lapangan kemungkinan besar di luar area penyewa jasa pengawalan lagi. Buat mereka yang memang sering mendapatkan kesempatan memberi pengawalan maka dari sekarang cobalah data kembali baik-buruknya. Pelajari lagi perilaku modern tapi nyaman buat semua. Pengawalan dan aksi konvoi akan berjalan indah tanpa bunyi sirine, lampu-lampu strobo dan gerakan-gerakan provokatif mengusir pengguna jalan lain.

Saya yakin pasti bisa. Kalau tidak bisa mari kita diskusi bersama bagaimana mencari aman dan nyaman buat semua.

*tidak siap jadi vorijder honda buat acara koboi .. halah …………..

**sumber gambar

Advertisements

About this entry