Riding is a 100 % Full Time Job


Setelah pada artikel lalu JDDC menekankan tentang pentingnya HELM, SIM serta STNK dan hubungannya dengan peraturan yang ada, kini kita coba lihat lebih dekat bahwa berkendara sepeda motor itu tidak lah mudah.

jalanan

“Riding is a 100 % full time job”, begitu isi kalimat penekanan soal aspek keselamatan berkendara yang selalu ditemui di dunia internasional. Bayangkan bahwa setiap harinya kita sebagai pengendara sepeda motor selalu melakukan aksi sirkus di jalanan. Berdiri di atas dua roda dari satu titik ke titik yang lain.

Sepeda motor dapat bergerak secara stabil dan temporer karena tiga hal : Distribusi bobot tubuh, lintasan serta kecepatan. Tanpa salah satu dari tiga unsur tadi jangan harap sepeda motor dapat dikendalikan.

Dan untuk mempertahankan tiga unsur tadi maka dibutuhkan sebuah KONSENTRASI. Simak penjabaran singkat berikut ini.

Mengendarai sepeda motor terhitung sebagai aktifitas paling berbahaya yang dilakukan di muka bumi. Oh ya ? Ya, benar. Karena faktanya kecelakaan terus saja terjadi atas dominannya unsur MANUSIA dalam pengoperasian kendaraannya. Bayangkan dengan jumlah korban perang maupun penyakit berat, angka kecelakaan sepeda motor masih menjadi momok menakutkan. Delapan dari sepuluh kecelakaan bermotor melibatkan pengendara sepeda motor. Belum lagi angka kematian per hari di ibukota yang mencapai angka tiga kematian per hari akibat kecelakaan bermotor.

UU Lalu Lintas no.22 tahun 2009 kini coba mengatur perilaku manusia dengan lebih detil. Simak isi pasal 283 bahwa setiap orang yang mengemudikan kendaraan bermotor di jalan secara tidak wajar dan melakukan kegiatan lain atau dipengaruhi oleh suatu keadaan yang mengakibatkan gangguan konsentrasi dalam mengemudi, dipidana dengan pidana kurungan paling lama tiga bulan kurungan atau denda paling banyak Rp 750.000.

Apa-apa saja yang kiranya perilaku tidak wajar yang dimaksud ?

Contoh-contoh perilaku yang bisa menghilangkan konsentrasi berkendara antara lain berkendara sambil melakukan aktifitas telpon dan sms, berbicara dengan penumpang dengan tidak memperhatikan jalan, mendengarkan musik secara berlebihan yang berpotensi pengendara tidak mampu mengontrol situasi jalan dan banyak lagi aktifitas lain yang kiranya dapat mengurangi konsentrasi. Termasuk berkendara dengan kondisi mengantuk, lelah dan letih yang tentunya dapat mempertinggi resiko kecelakaan.

Khusus pada kasus mengendarai sambil ber-sms atau telpon, aktifitas ini menjadi berbahaya tidak hanya disebabkan oleh terbaginya dua aktifitas yaitu berkendara dan berbicara pada waktu yang sama tapi juga akibat berita yang diterima.

Isi atau berita dari panggilan atau sms yang diterima kerap semakin mengacaukan ritme berkendara. Bayangkan jika secara tiba-tiba kabar buruk datang dari pekerjaannya. Idealnya pengendara harus mampu menekan emosi karena faktor perlunya konsentrasi saat berkendara.

Undang-Undang yang mengatur sudah ada maka kini tinggal dibutuhkan konsistensi dari penegak hukum yang bertugas di jalan raya. Masyarakat pengendara roda dua di Indonesia berdasarkan fakta masih lemah soal ketaatan hukum dan pengetahuan mendasar soal keselamatan. Ini menjadi pekerjaan rumah semua pihak yang merasa bertanggung jawab terhadap keselamatan.

Dari sisi pribadi pengendara idealnya kini juga harus mau berbenah diri untuk menempatkan aspek keselamatan di poin tertinggi. Salah satunya dengan mengedepankan konsentrasi dan menekan tingkat resiko kecelakaan sekecil mungkin.

Motobiker pasti bisa donk ! ..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s