Mencicipi Husqvarna SM 125


Sabtu, 16 Januari 2009. Sejak awal Husqvarna SM 125 sudah menjadi target saya untuk di uji coba. Beruntung tiga rekan lagi dari KoBOI (Komunitas Blogger Otomotif Indonesia) memiliki ketertarikan sendiri-sendiri soal pilihan motor. Bro Pringgo yang kepengen santai dan memilih Aprilia Scarabeo, bro Triatmono yang doyan moge tapi ingin mencicipi si lincah Gillera Runner, sementara bro Haryo sudah teken kontrak mau motor yang Aprilia RS 125. Tersisa si jangkung Husky, klop bukan ?

Husky_05

Husky_13

Perlengkapan berkendara pun siap. Aroma supermoto saya padukan dengan helm trail ber visor dari INK S5. Standar boots dan glove pastinya saya sertakan plus rompi, protektor dan langsung di tutup jas hujan yang setia nempel selama perjalanan. Pak Zainal dari PT Sentra Kreasi Niaga cabang DI Panjaitan cabang Jakarta Timur pun lantas memberikan kunci kecil Husky. Kunci nya kecil sekali seolah-olah menjadi poin tidak penting dari sisi pemakaian motor jenis supermotard ini. Rawan hilang kalau kuncinya sekecil ini.

Husky_15

Husky_03

Pertama mencoba duduk yang saya rasakan adalah ternyata sesuai bayangan. Ground clearance nya tinggi sampai saya harus jinjit untuk bisa menahan motor saat dalam keadaan full stop. Setang lebar dengan ban depan profil 110 sementara belakang 150, ban yang dipakai adalah ban aspal keluaran Pirelli membuat saya yakin bisa mengendalikan motor ini. Satu pelajaran berharga dari mentor saya, Pak Jusri, adalah kita harus siap dengan keadaan motor apapun saat kita diberikan satu buah motor. Entah itu motor bebek, matic, sport bahkan motor besar sekalipun kita harus siap mengendalikan, jangan jadikan “tidak biasa” menjadi alasan. Well … oke … saya siap naik Husky.

Jam menunjukkan pukul 8 pagi ditemani hujan dan grup siap berangkat. Saya pun naik ke Husky. Ada beberapa titik lemah yang harus cepat saya adaptasi yaitu ketiadaan indikator bensin, electric starter hingga lampu transmisi. Men-start motor pun mau tidak mau harus di-engkol. Lalu perpindahan gigi 6 percepatan ini harus saya rasakan lebih teliti lagi, belum lagi sulitnya masuk gigi netral saat motor berhenti di lamer. Tuas perpindahan gigi cukup berat dan selalu gagal masuk netral, perlu feeling lebih buat yang memiliki motor ini.

Husky 125 cc ini pun bergerak menelusuri Cawang menuju Kramat Jati dan Jl Raya Bogor menuju arah Puncak, tepatnya Cafe Gumati tempat berjalannya acara gathering bersama Piaggio. Kendali stang saya rasakan cukup baik. Ini dibantu dengan riding posture yang benar yaitu melebarkan tangan (*istilah bos adalah ‘gaya sombong’), kaki merapat ke tangki, sementara mata selalu melihat jauh ke depan untuk menjaga keseimbangan. Di tengah kemacetan ternyata saya lebih pede karena profil ban besar menjaga keseimbangan motor lebih baik. Paling hanya raungan khas 2 tak nya saja yang saya rasa cukup mengganggu, maklum suaranya ‘cempreng’ khas mesin 2 tak.

Akselerasi belum saya manfaatkan maksimal mengingat jalur yang dilewati cenderung padat, stop and go. Tes sederhana hanya saya lakukan terhadap suspensi yaitu dengan melewati jalur-jalur berlubang dan bergelombang. Suspensi cukup empuk tapi saya harus tetap waspada karena ban yang digunakan adalah bukan jenis ban pacul, melainkan ban aspal. Tinggi motor pun saya rasakan cukup istimewa, terlebih saat di tengah keramaian saya terlihat paling jangkung di antara kendaraan sekitar. Untuk digunakan di keseharian Husky ini cukup asik di ajak jalan, lebih-lebih dalam menyiasati buruknya jalan ibukota. Putar gas sedikit saja sontak membuat Husky meluncur, sistem rem nya pun terbilang sangat ‘pakem‘, baik untuk rem depan maupun belakang. Keduanya menganut sistem rem cakram.

Baru pada jalur pulang melintasi daerah KSU menuju Depok dan Pasar Minggu saya bisa sedikit coba-coba ber akselerasi meskipun tingkat akselerasi belum saya lakukan maksimal. Saat sedikit rebah saya masih sedikit terganggu dengan bobot motor. Saya hanya mencoba untuk tidak jatuh, pertama karena bobot motor yang belum saya kuasai dalam satu hari, kedua yaitu apalagi kalau bukan soal status pinjamannya.

Banderol 89 juta yang ditempelkan pada Husky mungkin terbilang cukup berat dan mahal mengingat motor versi balap RS 125 milik Aprilia hanya di banderol 79 juta. Konsep supermotard dengan sosok tinggi jangkung cukup membuat pede pemiliknya. Paling tidak untuk satu hari saya bisa tampil beda di tengah keramaian jalanan ibukota. Pesaing domestik jelas hanya muncul dari pabrikan hijau. Tapi untuk penggemar olahraga enduro, motocross, adventure maka brand Husqvarna tampaknya sudah memiliki tempat tersendiri di tengah mereka.

Akhir mata saya cukup naksir juga dengan motor ini. Poin 2 tak nya mungkin yang saya rasakan cukup mengganggu plus label harga impor yang cukup berat dipenuhi. Secara umum Husky tampil beringas dan bisa mengangkat image pengendaranya untuk tampil beda.

Terima kasih untuk PT Sentra Kreasi Niaga (pak Zainal dan ibu Evi plus all staf) atas kesempatan yang diberikan kepada saya untuk meminjam Husqvarna SM 125 ini.

Husky_04

Husky_06

Husky_07

Husky_08

Husky_09

Husky_10

Husky_11

Husky_14

Husky_12

Foto : Bikez.com dan koleksi pribadi

Spesifikasi teknis detail klik disini : http://www.bikez.com/pictures/browse.php?bikeid=26881&pageno=2

One thought on “Mencicipi Husqvarna SM 125

  1. coba era pasar bebas sekarang ni bisa bikin motor2 eropa terjangkao kaya motor jepang ya….
    tuk level saya paling cuma bisa mimpi…
    atao kalo udah kebelet ya modif…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s