Pengendara Roda Dua adalah Teroris


(Most) Motorcyclists (in Jakarta) are Terrorists . Nada kasar yang saya umpat sepanjang jalan pulang dari kantor kemarin sore (5/1/2010). Lalu lintas Jakarta kini makin disesaki oleh pengendara roda dua yang tidak –atau belum– mengenal etika berkendara dan sudah kehilangan sopan santun.

R2_3

Jadi ingat dengan sebutan teroris dari seorang pria asing bernama Alvaro Neil, warga Spanyol yang memiliki proyek pribadi MILES OF SMILE AROUND THE WORLD (MOSAW). Dia menyebut : “Tetapi, ia malah takut terhadap perilaku pengendara sepeda motor ataupun mobil yang ugal-ugalan di jalanan Ibu Kota. “Mereka semua teroris,” ucapnya.”

Saya seperti dibuat kalang kabut dengan sikap tidak profesional para pengendara R2. Bahkan sepersekian detik pun saya menjadi bagian dari aksi terorisme jalanan.

Teroris menurut kamus Oxford adalah “• noun a person who uses violence and intimidation in the pursuit of political aims“. Ada target politis disana. Meski mungkin tidak bisa ‘plek’ di banderol dengan kata teroris, tapi perilaku pengendara R2 dalam menebar ancaman/teror jelas-jelas menjadi gangguan tingkat tinggi yang harus di siasati.

Untuk melakukan tes pada mental anda berkendara, luangkan saja waktu satu-dua jam berkelana di tengah kota Jakarta. Himpitan antar kendaraan memaksa orang paling sabar sekalipun berkali-kali menarik nafas. Sialnya, udara yang terhisap tak lagi baik, isinya hanya kotoran dari asap-asap kendaraan yang entah menyimpan racun macam apa.

Tidak mau cek spion. Tidak mau melihat kanan dan kiri ketika bermanuver. Pengabaian rambu-rambu. Perilaku-perilaku tadi seolah sukses menghapus derajat pendidikan mereka sendiri. Terlalu banyak kata ‘nyaris’ yang saya alami pergi dari rumah dan pulang dari kantor. Menjaga jarak antar kendaraan pun sedemikian sulit sehingga terpaksa saya harus berpuluh bahkan beratus kali mengalah demi keselamatan nyawa saya sendiri.

Adalah bohong ketika ada pendapat dari salah seorang pengendara bahwa dia selalu ingat dengan yang di rumah saat hendak berangkat dan berkendara ke kantor. Lepas dari gang yang ada adalah niatan bagaimana agar cepat sampai tujuan tanpa sempat lagi memikirkan keselamatan. Ruang sekecil apapun kalo bisa dibabat habis tanpa perlu memikirkan efek apa yang dapat muncul dari pengguna jalan lain. Pengendara roda dua adalah teroris. Bagi pengendara lainnya. Bagi pengemudi mobil. Bagi pejalan kaki. Salut buat Polantas yang ‘sabar’ melihat aksi terorisme setiap hari.

Menjelek-jelekkan roda dua ? Terima sajalah. Karena itu adalah faktanya.

R2_1

R2_2

Advertisements

About this entry