Turing Galunggung Part One


Dengan waktu yang berdekatan dengan kegiatan internal enduro nya JDDC satu pekan sebelumnya, pada tanggal 1-3 Januari 2009 saya bersama beberapa rekan sukses menuntaskan turing Galunggung. Awalnya kegiatan ini ditujukan untuk internal komunitas motor tempat saya bernaung, entah karena apa agenda ini bubar jalan karena sampai sekarang masih menyisakan tanda tanya besar.

Lupakan yang bermasalah dan waktu yang tepat untuk menuntaskan gairah turing ada di 3 hari libur awal Januari. SELAMAT TAHUN BARU 2010.

Etape 1 melahap jalur Bekasi – Cikarang – Karawang – Klari – Ciater – Lembang – Bandung – Nagrek – Malangbong – Rajapolah. Tujuannya adalah tempat ayah mertua dari bro One, salah satu peserta turing.

Dari awal saya sudah mempersiapkan diri untuk segala medan dan cuaca. Setelah semua diperbaiki paska aktifitas enduro akhirnya motor CS1 saya sudah dalam kondisi baik kembali.

Saya mengenakan kaus dalam dan diluarnya di lengkapi body armor plus dibalut jas hujan Cartenz. Panas ? tidak. Semua baik-baik saja dan sanggup menahan angin sepanjang perjalanan. Sementara celana menggunakan celana turing dengan tulisan ‘Alam Gear’, entah brand apa tapi pada aktifitas enduro mampu menahan gempuran air hujan, di bagian lutut sudah dilengkapi protektor. Sementara sepatu cukup RVR Rescape dan sarung tangan turing tebal.

Etape 1 akhirnya selesai pada jam 8 malam, berarti kurang lebih 12 jam perjalanan, sudah termasuk bersantai-santai melepas penat dan membuang waktu di Lembang akibat macet.

Di hari kedua setelah puas istirahat grup menyempatkan diri jalan-jalan seputar kota Rajapolah. Termasuk main ke stasiun, makan bubur ayam sampai gerak jalan ke sisi-sisi kota.

Jadilah kami semua terpuaskan rasa dahaga jalan kaki. Rais dan Novi plus si kecil Ryan, Heri, DJ, Henry, One serta Alex dan saya sendiri tampak sumringah untuk menyambut etape berikutnya menuju gunung Galunggung di sekitaran Tasikmalaya.

Beberapa saat sebelum keberangkatan saya menyempatkan diri membenai shock depan karena kemarin saya menemukan kelemahan signifikan karena bantingan shock depan terlalu kencang. Lengkungan jalan sedikit saja membuat suara tidak enak keluar dari shock. Beruntung bengkel kecil dekat rumah bro One mampu mengerjakan perbaikan dengan hasil yang jauh lebih baik.

Etape berikut nya adalah Rajapolah – Tasikmalaya – Galunggung – Garut. Perjalanan cukup seru karena harus melintasi jalan pedesaan penuh tanah plus bebatuan. Aspal ketika mulus pun tak usah diharapkan semulus aspal kota. Medan nya memang tidak se ekstrim seperti di kegiatan enduro saya sebelumnya tapi hal ini cukup lah untuk memberi pengalaman lain untuk rekan-rekan sesama peserta turing.

Sesampainya di pintu masuk Galunggung terlihat tanjakan yang cukup ekstrem untuk bisa sampai ke atas. Kurang lebih butuh 2,5 km lagi untuk bisa sampai di lahan parkir motor kawah Galunggung. Derajat kemiringan terbilang cukup ekstrim. Sayang saya tidak melihat rekan-rekan mem praktekkan teknik ‘ascending’ dengan mulus. Seharusnya di tingkat kemiringan yang terjal pengendara harus merapatkan badan ke arah depan sambil berdiri. Motor dibuat tanpa beban karena distribusi di larikan ke depan sehingga motor dengan mudah naik ke atas. Akhirnya saya sampai di atas lebih cepat.

Bersambung nanti lagi ya ya ya ya …..

glg_01

glg_02

glg_04

glg_05

glg_07

glg_08

glg_09

glg_15

glg_13

glg_11

glg_18

glg_19

glg_17

glg_16

glg_20

Advertisements

About andryberlianto
Daily life a modern motorcycle traveler and a (motorcycle) safety consultant. Fell in love with Kulonprogo sampe ngaku-ngaku asal Jogja ... #proud #TamanSungaiMudal #KulonprogoYuk #JogjaIstimewa #progomoto #RifatDriveLabs

2 Responses to Turing Galunggung Part One

  1. ferry Afrianto says:

    …nice.. bngt ceritanya..
    btw.. mo tanya.. teknik ‘ascending’ itu spt apa….???? dan mksd
    pengendara harus merapatkan badan ke arah badan sambil berdiri. .. itu spt apa…

    dan bsakah tehnik spt itu.., juga dilakukan sambil berboncengan…

    • andryberlianto says:

      sori .. sudah di ralat menjadi :
      “Seharusnya di tingkat kemiringan yang terjal pengendara harus merapatkan badan ke arah depan sambil berdiri.”

      Ascending itu naik .. dipraktekkan saat kendaraan sedang naik tajam untuk mengurangi beban motor ….

      Kalo berboncengan cukup sulit sebenarnya karena motor pasti berat untuk naik, untuk beberapa kasus medan yang sulit terpaksa boncenger turun sebentar …

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: