Tidak usah berkendara di jalan raya jika tidak tau aturannya


Sebuah pernyataan yang terkesan sombong, angkuh dan merasa hebat serta pintar ? Tergantung darimana kita mengambil benang merahnya. Saya akhir-akhir ini cukup was-was berkendara di belantara Jakarta. Was-was kenapa ? Setiap detik saya selalu dibuat jantungan dan bermain di area berbahaya. Lolos adalah sebuah keberuntungan. Dan keberuntungan itu saya dapatkan setiap hari. Gila.

Ada yang salah dengan sistem lalu lintas kita ? Bisa ya bisa tidak. Argumentasi berkeliaran menyinggung bobroknya pengaturan lalu lintas, infrastruktur hingga soal mental pengguna jalan. Saya paling menaruh perhatian kepada banyaknya jumlah Surat Ijin Mengemudi yang lolos dari pihak berwajib untuk dikantungi para pengendara amatiran. Bukan berarti saya profesional. Tapi tentu tidak juga amatir.

Saya adalah korban sistem kemudahan mendapatkan SIM. Cukup membayar sekian ratus tanpa harus antri. Antri pun sebenarnya ada di kondisi yang sama. Prosedur dan tes tidak murni diterapkan lengkap. Tapi kemudahan mendapatkan SIM saya anulir dengan terus menambah pengetahuan berkendara dan ber lalu lintas. Saya rasa ini lebih dari cukup untuk mempertanggung jawabkan saya karena menempatkan diri sebagai korban produksi SIM.

Berapa banyak dari pemohon SIM yang selepas pulang mau meluangkan waktu membaca literatur berkendara, baik soal skill maupun pelebaran pemahaman UU Lalin. Pasti tidak banyak. Beruntung saya bukan pemilik SIM yang asal punya. Saya meluangkan waktu mendapatkan ilmu baru. Saya meluangkan waktu memperbaiki diri.

Saya termasuk yang sering berkoar dalam tulisan soal menjadi penggiat -istilahnya- Safety Ride. Tapi ada semacam pemikiran terlintas, sepertinya ada yang ‘missed’ dalam kampanye ini. Ketika gelontoran artikel masuk ke sistem web atau email atau mailing list maka saya langsung berpendapat bahwa setiap pembaca pasti sudah punya pemahaman yang cukup. Pembaca bukan lah pengguna jalan raya amatiran. Mereka semua sanggup jadi panutan. Lalu bagaimana dengan para pengguna jalan raya yang ‘lolos’ dari kampanye yang banyak diumbar di internet ?

Jika kita mau bisa saja kita menjadi pengendara yang hebat, penuh sopan santun dengan skill yang mumpuni. Tapi yang terlihat adalah NOL BESAR. Berapa banyak dari pengguna jalan yang menghargai helm, yang mau menengok sekilas saat berubah arah, yang lebih memilih mendahului daripada menyalip, yang memutuskan berhenti saat lampu lalin berwarna merah ? Persentase nya bisa 1:20 jika dihitung jumlah kendaraan yang ada di belakang garis putih.

Apakah kita merasa pantas dan layak jadi pengguna jalan ? Saya merasa menjadi pribadi yang menuju sosok yang layak meski harus banyak melakukan perubahan. Di setiap persimpangan saja kita enggan menurunkan gas dan lebih memilih bermain di bibir kendaraan lain lalu kita anggap itu suatu tindakan pantas dan layak dan berpengetahuan sebagai pengguna jalan raya. Lihat lagi Surat Ijin Mengemudi, renungkan apa kita masih layak dan pantas berkendara di jalan raya. Kita sudah di ijinkan berkendara tapi bukan berarti jalan raya menjadi milik kita.

Tidak usah berkendara di jalan raya jika tidak tau aturannya.

4 thoughts on “Tidak usah berkendara di jalan raya jika tidak tau aturannya

  1. mestinya cara berkendara yang benar masuk dalam kurikulum sekolah, saya pikir ini lebih efektif karena akan mendidik kedisiplinan dalam berkendara sejak masih kecil. kalaupun kedisiplinan tidak terbentuk 100% tapi secara keilmuan/teori mereka sedikit banyak akan menguasai. terus terang aja sebagai seorang biker saya buta dengan segala peraturan yang ada dijalanan, selama ini saya berpatokan "dijalanan kita mesti saling menghargai dan menghormati", itu aja. karena saya sadari betul dijalanan segala peraturan tidak berlaku lagi, sebuah kesadaran yang salah sih tapi itu realita yang ada. contoh kecil aja, diperempatan lampu sudah menyala merah, kondisi jalan agak sepi, pengendara didepan saya tidak menginjak rem tapi terus melaju, kira2 apa yang mesti saya lakukan?. kalo saya nekat nginjak rem dan berhenti, saya yakin minimal saya akan diomelin orang, parahnya saya ditabrak dari belakang. bener gak?

  2. contoh kecil aja, diperempatan lampu sudah menyala merah, kondisi jalan agak sepi, pengendara didepan saya tidak menginjak rem tapi terus melaju, kira2 apa yang mesti saya lakukan?. kalo saya nekat nginjak rem dan berhenti, saya yakin minimal saya akan diomelin orang, parahnya saya ditabrak dari belakang. bener gak?==> sepi disini malam atau siang, jika malam dan berbahaya gunakan kesempatan untuk tetap berjalan dengan memperhatikan situasi persimpangan. Jika siang ,sebelum braking ada prosedur yang harus dilakukan dalam metode defensif yaitu cek spion, pastikan aman baru berhenti. Jika terlihat banyak kendaraan ambil saja lajur kiri untuk berhenti jika ingin ttp ingin bersikap disiplin. Ride by condition aja asal tidak lari ke arah pembenaran untuk sebuah pelanggaran.

  3. Yg sangat memprihatinkan adalah SIM 'tembak' yg menjamur.Saya dulu mo bikin SIM dgn cara normal, tidak sogok2an. Tapi 2x saya coba tetap saja tidak dilulusin pd hal soalnya sudah saya pelajari benar. Ujung2nya yg ke 3 kali terpaksa disuruh 'sogok' lagi baru bisa SIMnya jadi.Aku tanya yg laim rombongan saya yg test, katanya kasusnya sama, harus 'nyogok' kalo mo lulus…ih ngeri aku bayangkan ratusan orang tiap hari bikin SIM, dikalikan 100.000 saja per org untuk nyogok udh berapa duit yg beredar di kantor Samsat sana…tiap harinya??sungguh memprihatinkan…Saya rasa berkendara yg benar harus dimulai dari sumbernya. salah stunya adalah perolehan SIM spt mas Andri sampekan.Sory jadi curhat nih..peace…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s