Ciwidey Ride


Nama CIWIDEY tentunya tak asing di telinga penikmat jalan-jalan. Lokasi wisata di kaki Gunung Patuha Kab. Bandung ini berada sekitar 2000 dpl. Tempat yang terkenal dengan produksi buah Strawberry ini menyimpan hawa sejuk, cukup hangat-hangat dingin di saat siang dan terasa dingin menusuk tulang di saat malam. Bekal jaket tebal rasanya menjadi bawaan wajib para wisatawan.

Saya berkesempatan mengunjungi tempat ini beberapa hari yang lalu, 15-16 Agustus 2009. Jelang hari kemerdekaan bangsa Indonesia, 17 Agustus 2009. Nuansa hari kemerdekaan inilah yang membuat perjalanan kali ini bertema “Turing Merdeka”. Saya beserta rombongan dari komunitas Honda Karisma (KHCC = Karisma Honda Cyber Community) mengambil rute tempuh melalui daerah Jonggol ketimbang harus berjibaku dengan ruwetnya lalu lintas Bogor – Puncak. Jarak dipangkas amat jauh karena tembusan Jonggol sudah berada di daerah Cianjur jelang Padalarang.

Saya menunggu rombongan di daerah Cileungsi karena posisi rumah tinggal saya yang berada di Bekasi. Kelar Cileungsi berturut-turut menelusuri rute Jonggol – Cikalong – Ciranjang – Cipatat – Padalarang – Cimareme – Soreang hingga Ciwidey. Tidak perlu masuk Bandung kota dan memangkas langsung sambil melihat stadion Jalak Harupat milik Persib.

KM awal speedo meter Honda CS1 mencatat angka 22.918,7 dan kembali ke garasi rumah esok harinya di KM 23.295,6. Total pergerakan kendaraan PP hanya 376,9 km. Konsumsi bensin tidak tercatat presisi dan pasokan bahan bakar berubah-ubah dari Pertamax – Premium dan kembali Pertamax.

Sesampainya di Ciwidey ada beberapa catatan yang harus saya koleksi agar bisa menjadi masukan bagi banyak pihak :

  • Kondisi jalan masuk ke Ciwidey sempat terlihat menjanjikan dengan aspal yang baik. Naik terus naik justru makin buruk. Derajat kemiringan yang lumayan ekstrim membuat kendaraan harus susah payah ‘genjot’ gigi 1 sambil menginjak batu-batu aspal tak karuan. Ini jelas jadi masalah saat pengendara mempersiapkan putaran gas saat naik. Satu mobil terlihat terjebak di bebatuan dan tak sanggup naik lagi.
  • Jika niat dan berusaha modern mungkin akan lebih eksklusif jika tersedia kereta gantung untuk sampai ke atas. Tapi tutup harapan anda jika tempat wisata ini masih di bawah pengaturan pihak-pihak yang tidak total mengurus lokasi wisata.
  • Sesampainya di bibir kawah saya memang terkagum-kagum dengan bentuk unik kawah ini. Warna hijau dominan di air-air yang mengisi kawah. Tebing-tebing apik mengelilingi kawah misterius dan cantik ini. Tapi ….. pemandangan Indonesia tak lengkap tanpa sampah, tak terkecuali di Ciwidey. Peraturan dan peringatan seolah pajangan. Sampah sedikit berserakan di pinggiran kawah. Belum lagi coretan di bebatuan padahal ada larangan besar disana. Inilah bangsa kita. Terima saja !

Secara umum saya dan teman-teman dipuaskan dengan perjalanan ini. Penginapan alternatif di perumahan penduduk justru memberikan kepuasan tersendiri. 500ribu-an per malam bukan masalah karena ruang luas dua tingkat rumah menjadi milik kami dalam semalam.

Pemandangan sekitar pun dapat terlihat kepulan asap pemandian air panas. Istirahat kapan pun menjadi kenikmatan buat saya dan rombongan. Catatan lain soal Ciwidey akan saya lanjutkan di lain post. *Makan strawberry nikmat juga*

2 thoughts on “Ciwidey Ride

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s