SNI oh SNI



Salah satu teman terlihat bersungut-sungut membaca situasi lalu lintas kota Surabaya yang jauh lebih sadar akan pentingnya keselamatan kepala ketimbang kota asalnya, Jakarta. Apa yang menjadi pembeda, tak lain adalah tegasnya peraturan di Surabaya yang langsung menilang pemakaian helm jenis cetok. Mungkin efek takut ditilang memaksa para pengendara di Surabaya melupakan pemakaian helm cetok.

Jakarta yang terhitung ibukota negara sesungguhnya harus memiliki ketegasan yang sama dengan Surabaya. Karena melalui ketegasan itulah pengendara akan lebih menghargai keberadaan hukum dan aturan yang berlaku. Menindak tanpa pandang bulu adalah sebuah usaha maksimal yang idealnya diterapkan demi merubah kebiasaan buruk pengendara yang selalu melalaikan keselamatan.

Di luar perbedaan penegakan aturan pemakaian helm non-cetok tadi kini muncul ragam kontroversi baru tentang keinginan pemerintah untuk menerapkan helm ber-SNI (Standar Nasional Indonesia) untuk dipakai oleh seluruh pengendara roda dua. Sebuah usaha yang baik meski masih miskin sosialisasi. Faktanya belum banyak pengendara yang faham tentang definisi SNI itu sendiri dan bagaimana kualitas helm yang sudah dilabeli SNI. Bisa jadi penempatan logo SNI hanya sekedar formalitas bernuansa bisnis agar bisa lolos dari jerat hukum.

Pada skala internasional sendiri sertifkasi pengaman kepala memilih lembaga model SNELL dan DoT yang sudah wara-wiri memunculkan data kualitas helm terbaik dan selalu up to date ini diakui dan digunakan juga pada aktivitas high risk seperti dunia balap International. Kemunculan SNI sendiri sudah saatnya sejajar dengan lembaga yang disebut tadi, tentunya dengan kekuatan lembaga yang sama kuatnya dalam menjamin unsur keselamatan dan penilaian terhadap sebuah produk yang dikeluarkan. Sudah rahasia umum bahwa konsistensi penegakan hukum di Indonesia pada prakteknya selalu naik turun. Ini menjadi pekerjaan rumah besar untuk mensosialisasikan dalam level apa SNI bisa ditempatkan. Tentunya semua demi keselamatan pengguna jalan raya.

1. Sebenarnya apa fungsi utama helm untuk pengendara motor?
—> Helm lebih sebagai media peredam benturan langsung terhadap kepala & muka, meskipun tidak dalam porsi menyelamatkan tapi fungsi helm lebih pada mencegah dan meminimize tingkat cedera pada kepala akibat benturan. Ini akan berpengaruh banyak jika helm yang digunakan mampu menutup seluruh area kepala dan muka.

2. Seperti apa sih helm yang bisa menjamin keselamatan berkendara? Apakah yang sudah mempunyai standar internasional seperti DOT dan SNELL?
-> DoT (Departement of Transportation – http://en.wikipedia.org/wiki/Department_of_Transportation) dan SNELL (http://en.wikipedia.org/wiki/Snell_Memorial_Foundation) adalah organisasi independen yang mendunia dan memang mengkhususkan diri mewartakan fungsi helm (khususnya SNELL) dan memberikan uji sertifikasi atas kualitas helm dimana pada kerjanya mereka memberikan rating produk helm satu dengan yang lain agar bisa menjamin keselamatan kepala meski tidak 100 %.

3. Apa pengaruhnya jika pengendara motor tidak menggunakan helm yang tidak berkualitas?
—> Takaran berkualitas pada masyarakat Indoenesia lebih kepada sisi desain dan material, biasanya untuk daily riding cukup mengenakan half-face, sementara untuk tour riding lebih prefer ke full-face. Melalui sertifikasi internasional layaknya SNELL DOT pengendara bisa merasakan lebih safe karena material helm yang terbeli sudah benar teruji dengan metode tes kelas wahid (tes benturan dari ketinggian tertentu hingga tes dalam wind tunnel). Jawaban jika tidak menggunakan helm yang berkualitas kualitas cedera kepala semakin buruk.

4. Menurut anda, helm berkualitas itu seperti apa?
—> Ukuran berkualitas jika helm itu mampu memberikan keamanan & kenyamanan pada kepala, fungsi chin strap yang kuat, casing yang teruji hingga material busa yang melindungi batok kepala serta berat yang ringan. Untuk ukuran DoT dan SNELL pasti masuk hitungan meskipun SNI sudah mampu berbicara lebih untuk memuaskan keinginan pengendara terhadap kenyamanan sebuah produk.

5. Pemerintah akan memberlakukan SNI wajib Helm per 25 maret besok. Apa pendapat anda ?
—> SNI berarti sudah standar nasional, jika proses rating produk sebelum memberikan label SNI berjalan transparan dengan metode pengetesan yang diketahui khalayak luas dan memberikan listing produk (merk) helm yang benar tentunya konsumen dapat memilih mana jenis atau tipe helm yang layak dibeli. Dan labeling SNI ini diharapkan jauh dari kesan bisnis dan dipaksakan karena bagaimanapun kepala atau bahkan nyawa adalah bayarannya.

6. Mereka (pemerintah) mengatakan tujuannya adalah untuk meningkatkan tingkat keselamatan berkendara yang selama ini sangat kurang. Terutama meningkatkan standar kualitas helm terlebih dulu. Apa pendapat anda?
—> SNI adalah sesuatu yang harusnya bisa dibanggakan. Apalagi jika eksistensi SNI bisa terlihat layaknya DoT atau SNELL yang notabene lebih di akrab di konsumen yang sudah ‘melek’ soal safety pada helm.

7. Tapi, ketika saya tanya siapa nanti yang mengawasi, mereka masih binggung. Katanya sih kepolisian atau dishub?
—> Semua saling terkait karena semua punya peran soal ROAD SAFETY, terkait dengan pengawasan yang efektif memang sulit bayangkan kalau keberadaan sticker SNI atau SNELL/DOT sudah berada dijutaan kepala yang sedang berada di jalanraya pengawasan nya akan luar biasa mengeluarkan energi. Saya rasa kesadaraan masyarakat akan pentingnya keselamatan yang dapat meningkatkan keselamatan bukan helm! Untuk itu tingkatkan program permberdayaan keselamatan, masyarkat yang akan memilih helm ini sebanding tidak dengan kepala atau nyawanya nya, disisi lain memberikan helm yang berkualitas harus tetap dijalankan.

8. Yang jadi masalah adalah helm-helm impor yang notabene mereka sudah mempunyai standar internasional. Apakah standar mereka sudah cukup untuk keselamatan?
—> Secara data tentunya merk-merk impor yang sudah ber label DoT atau SNELL (original) berarti sudah cukup mumpuni untuk melindungi kepala, sebagai catatan di negeri tercinta ini banyak label-label DOT/SNELL palsu kalau kita melihat list certified helmet dari institusi DOT/SNELL sendiri banyak helm dengan merek & type tertentu tidak tercantum disana (wah gimana neh..?) dan banyak juga merek-merek import terkenal namun tidak semua typenya certified.
Pelarangan penjualan di luar standar SNI tentunya harus diluruskan, paling tidak masyarakat dapat memilih MINIMUM standar helm yang harus dipakai yaitu sesuai SNI. Merek-merek import terkenal dan berlabel DOT/SNELL yang masuk ke Indonesia juga tetap harus diawasi kejujurannya.(Note; sticker DOT & SNELL mudah di temui diemperan terminal Blok M kisaran harga cuma Rp.2,000-,)

9. Apa saran anda kepada pemerintah dan pengendara motor untuk mengurangi tingkat kematian akibat salah menggunakan helm?
—> Pemerintah (atau pihak terkait) sudah harus mulai patuh dan konsisten akan UU yang mereka buat. Konsistensi adalah segalanya. Kampanye secara massal berikut sosialisasi dan penegakan hukum di jalanan teramat penting untuk dilakukan agar masyarakat ‘kapok’ untuk melanggar hukum. YLKI harus diberikan kekuatan dan power yang sama seperti institusi KPK dengan demikian akal-akalan bisnis dengan mendompleng niat yang baik dapat diminimize.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s