Ponari Sweat


Rasanya gatal juga mau nulis soal fenomena Ponari, ya atau tidak. Lebih baik ya, sekedar untuk melampiaskan kekesalan saya atas fenomena membludaknya pasien di rumah Ponari demi mendapatkan berkah dari Ponari dan batu ajaibnya. Menurut berita terakhir yang ramai di media massa, saat ini Ponari sudah absen dari sekolah kurang lebih 3 minggu. Hilang sudah masa belajar dan masa bermain. Dari sinilah muncul lagi perhatian dari kak Seto, dari Komisi Perlindungan Anak. Secara langsung beliau datang bercakap dengan Ponari dan keluarga. Berita meresahkan lain datang dari ambruknya ayah Ponari diterjang protes tetangga agar Ponari tetap membuka praktek ‘dukun’.

Beribu pasien datang membawa tempat minum masing-masing sembari menunggu Ponari mencelupkan tangan dan batu ajaibnya. Belum lagi cara ajaib lain pasien yang memaksakan definisinya tentang keajaiban yaitu rela menggali tanah lumpur sampai mengaduk comberan karena dipercaya juga berkhasiat.

Sebenarnya cuma satu pertanyaan menggelitik dan hitungannya sekedar harapan. Coba satu pihak independen hadir disana sekedar untuk menghitung persentase kesembuhan yang dialami oleh para pasien. Mereka semua sembuhkah ? atau hanya 2 dari 10 pasien yang sembuh ? atau justru sebenarnya tidak ada. Muncul dugaan bahwa ini hanyalah sekedar sugesti. Muncul karena ketiadaan kepercayaan masyarakat (miskin) terhadap jasa pengobatan dari pemerintah.

Kasian Ponari. Kasian bangsa ini.

Advertisements

About this entry