Laskar Pelangi: the Movie


Karya cipta Andrea Hirata akhirnya naik ke layar lebar, kisahnya tentang perjuangan sekelompok anak sekolah tingkat dasar dengan bantuan tak kenal lelah dari seorang ibu Guru. Untuk sederetan nama pemeran dan sosok yang diperankannya mungkin bisa dilihat di sini http://www.laskarpelangithemovie.com/, saya hanya coba melihat dari sisi pandang seorang penonton 21 yang datang tidak dengan bawaan pengenalan novel Laskar Pelangi sebelumnya, jadi saya hanya terbawa keriuhan keingintahuan penonton untuk menyaksikan langsung sebuah film adaptasi novel laris karya Andrea Hirata. Dari keadaan sebelumnya yang terjadi di tiap studio pemutaran film akhirnya saya dan keluarga memutuskan menunggu hingga badai penonton mulai sepi karena pada hari-hari sebelumnya antrian penonton tak jarang membuat kesal karena bisa saja kita yang sudah antri harus rela duduk mendongak karena kebagian jatah di barisan depan. Tunggu punya tunggu pun berhasil karena malam itu kami duduk nyaman di deretan F studio 21 Metropilitan Mall Bekasi berbekal tiket 15ribu untuk 3 orang.

Sebagai penonton yang mungkin datang dari pembaca novelnya pasti ada saja nada protes kurang ini dan kurang itu tapi saya pikir untuk durasi film tak mungkin bisa menerjemahkan isi satu buku penuh demi memuaskan khalayak ramai. Cerita yang diangkat dari secuil kisah dari pulau Belitong (sama tidak dengan Belitung ?) saya melihat banyak kegembiraan yang coba diterjemahkan sutradara dimana mimpi harus kita jaga dan kita coba raih beserta kesempatan yang datang. Saya yang tidak gemar membaca novel cukup puas melihat film ini yang menyajikan petualangan mendapatkan pendidikan dan riuh rendahnya sukacita yang diusung oleh para karakter yang bermain, mulai dari kesempatan bersekolah yang akhirnya terjalani karena memenuhi kuota di detik terakhir, keriangan 10 anggota laskar pelangi mencapai piala idaman, hingga kematian pengasuh besar mereka saat mereka tengah di puncak semangat. Penggambaran alam saya pikir sangat baik mengedepankan alam pesisir pantai, padang rumput, rawa ber-buaya digandeng nada-nada humoris para Laskar Pelangi.

Akhir kata film ini masih layak tonton di segala umur meski di beri catatan hanya untuk penonton di atas 10 tahun. Jangan terlalu mencari kekeliruan kata-kata yang ada di novel dan dibanding-bandingkan dengan versi layar lebarnya, jangan juga terlalu mempertanyakan kenapa disini tidak ada itu dan itu tidak ada disini. Apa yang diharapkan dari sebuah film berdurasi singkat untuk sama baiknya dengan versi novel. Sebuah pemandangan cerita segar ketimbang harus antri hanya demi film horor yang tidak becus di produksi atau percintaan tidak jelas yang mencari air mata penonton. Film Indonesia memang sedang naik pangkat karena sudah mampu mendominasi papan studio di bioskop-bioskop kota, tinggal kita yang harus pintar memilih mana film yang baik mana film yang buruk dan Laskar Pelangi masuk di kategori BAIK. Great job !!

Advertisements

About andryberlianto
Daily life a modern motorcycle traveler and a (motorcycle) safety consultant. Fell in love with Kulonprogo sampe ngaku-ngaku asal Jogja ... #proud #TamanSungaiMudal #KulonprogoYuk #JogjaIstimewa #progomoto #RifatDriveLabs

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: