DAY FIVE <> LONG WAY HOME


(02/10) Pagi yang demikian dingin jam 6 baru membuka mata dan bangun dari sofa, maklum seluruh kamar dan kasur terpakai oleh kerabat wanita dan anak-anaknya, yang pria harus rela ‘kelekaran’ di lantai menggunakan alas alternatif yang untungnya tetap kebagian jatah bantal, itu yang penting. Sarapan dan berpamitan perjalanan baru akan dimulai sekitar jam 8.30 pagi. Setelah meninggalkan uang pengganti penginapan sekaligus untuk bantu-bantu saudara yang mengurus rumah peninggalan kakek-nenek, akhirnya semua berkumpul di teras menemani persiapan 15 menit mengenakan dekker siku dan lutut, cukup makan waktu tapi harga keselamatannya bisa terbayar. Sementara Honda City Sport One juga telah siap ditunggangi setelah kemarin sesaat sebelum ke Candi Gedong Songo menyempatkan untuk ganti oli di AHASS pasar Ambarawa.

Ada sedikit kekhawatiran karena di perjalanan ini tidak ada lagi kesempatan menginap seperti halnya di hari pertama, target awal adalah komplek pemakaman Panggung Tegal yang lokasinya berdekatan dengan stasiun Tegal. Lama tidak hadir disini yang ada hanya ‘pangling’ karena sudut kota telah berubah banyak sampai tak mengenali lagi jalur jalan yang dulu lebih mudah diingat. Warna-warna biru mendominasi sudut kota lengkap dengan lalu lintasnya yang hari itu terlihat cukup lengang. Pemakaman Panggung Tegal adalah tempat makam kakek nenek dari bapak yang mau tidak mau harus dikunjungi karena sudah ada amanat mampir karena sudah sekian lama tidak ada yang mengunjungi. Kurang lebih jam 14.30 sudah memasuki kota Tegal, cuaca terik tidak mengalahkan semangat berkendara hari itu. Sempat terpikir untuk mencari losmen kecil demi melanjutkan perjalanan keesokan harinya, keinginan itu juga datang karena ingin mencicipi malam kota Tegal yang lama sudah tidak dirasakan. Lihat jam tangan sepertinya dari sisi waktu masih cukup mengejar matahari sebelum terbenam demi melintasi jalur membosankan di jalur Pantura. Setelah mengisi perut di RM Pi’an dengan menu nasi khas Tegal dan es teh manis akhirnya diputuskan tidak perlu menginap dan mencoba menekan gas sesegera mungkin dengan target jam 22 sudah harus sampai di rumah di Bekasi.

KM menunjukkan 4920.3 di pom bensin kota Tegal, lalu lintas ramai lancar. Isi pertamax dan langsung melanjutkan perjalanan dan berpisah dari kota Jawa Tengah di KM 4956.3, total hanya 36 km dari Tegal menuju perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Barat. Seperti halnya saat berangkat jalur ini aspalnya terbilang cacat karena ada saja lubang-lubang kecil yang bisa saja mengganggu kecepatan perjalanan, sikap hati-hati harus ditunjukkan ekstra di jalur ini. Melintasi Cirebon dengan mata awas terus melihat papan penunjuk arah ke Jakarta agar tidak sampai keliru arah dan bisa memperlambat perjalanan, ternyata saat mata awas pun ada saja rambu penunjuk arah yang terlewat, mata kaget karena alur perjalanan sedikit menanjak, berbeda dengan suasana jalur Pantura, benar saja ternyata muncul gapura besar “Selamat Datang di Kabupaten Majalengka”. Perjalanan sudah cukup lama dan harus menerima keadaan salah arah, terpaksa berbalik karena ini justru arah menuju Bandung dan bukan melintasi Pantura melewati Bekasi nantinya. Untung saja banyak tanda yang mengarahkan kembali ke Pantura menuju Jatibarang. Akhirnya di Jatibarang ini motor kembali isi bensin dan terpaksa menenggak Premiun, KM menunjukkan 5039.8, total 119,5 km Pertamax menipis dari kota Tegal, strip masih 2 bar dan tidak ingin mengambil resiko sampai bar berkedip. 119.5 km dengan 20 ribuan Pertamax sejauh yang teringat sudah cukup membuat hati puas dari sisi keiritan sebuah Honda City Sport One. Perjalanan pun berlanjut mengejar matahari yang kian tenggelam di Pantura sementara ada keinginan untuk tidak terjebak gelap di jalur Subang.

Waktu tak bisa dikejar, akhirnya merasakan juga perjalanan malam (sore) yang gelap setelah mampir beribadah Magrib di salah satu masjid di pinggir jalur kota Subang. Ganti baju dan membuat diri lebih fresh karena perjalanan selanjutnya akan lebih memaksa mata tetap awas karena kondisinya yang berubah drastis dari sebuah perjalanan siang hari. Lepas beribadah dan kembali melakukan perjalanan, kali ini musuh utama perjalanan malam datang dari bis-bis besar Pantura berkecepatan tinggi yang rentan membuat oleng motor, belum lagi mobil-mobil pribadi yang sama cepatnya seolah mengharap jangan sampai mereka tidak melihat kehadiran para pengendara motor di lajur kiri. Idealnya pengendara motor yang gemar jalan malam harus melengkapi diri untuk lebih terlihat (visible) di mata pengendara lain. Bisa dengan mengenakan jaket ber-scotlite yang dapat memantul cahaya dari kejauhan plus nyala lampu belakang baik lampu rem dan lampu sein yang mutlak harus dalam keadaan normal. Tetap awasi spion menanti setiap perubahan yang mungkin terjadi, tiap 8 detik cek spion sepertinya harus lebih di percepat menjadi tiap 2 detik, setidaknya itu yang dirasakan agar tidak muncul efek ‘ciluk ba’ dimana kendaraan lain sudah ada di buntut motor. Tetap pandang perjalanan di depan sejauh mungkin dan atur pergerakan mata untuk tetap memantau spion. Jalan malam di Pantura setidaknya menjadi situasi tidak ideal dan pilihlah jalan siang karena tingkat visibilitas bisa tercapai maksimal.

Di KM 5146.5 akhirnya kembali harus isi bahan bakar dan kali ini sudah mencapai daerah Cikampek. Total 106.7 km dari terakhir isi bahan bakar dan tetap tidak ingin mengambil resiko kehabisan bensin saat berjalan dan memilih reload tiap indikator menunjukkan masih 2 bar. Di daerah ini lah keadaan lalu lintas menjadi lumayan padat. Mungkin karena ini jadi jalur pertemuan bagi kendaraan yang baru saja lepas dari tol Cikopo. Keadaan aspal jalan berubah tidak mulus yang membuat kecepatan tidak bisa dipacu sekencang di jalur Pantura. Satu hal yang harus jadi perhatian pengendara adalah keharusan untuk tidak terlena di saat-saat akhir perjalanan. Biasanya pengendara menjadi lebih agresif karena kemunculan rasa ingin cepat sampai di tujuan dimana hal ini riskan membuat pengendara menjadi tidak fokus yang bisa mengakibatkan celaka. Ada benarnya karena malam itu pacuan CS1 menjadi sedikit tidak beraturan karena terlena arah penunjuk jalan yang sudah demikian dekat dengan Bekasi – Jakarta. Beruntung masih cukup di lindungi oleh Yang Maha Kuasa yang akhirnya pada KM 5206.8 kendaraan pun akhirnya menepi di pinggir pagar rumah di kota Bekasi, waktu belum menunjukkan pukul 22 (21.30) yang berarti target tercapai dari perkiraan awal mengejar jam 22 tiba di rumah. Alhamdulillah 1090.8 km pulang dan pergi sudah berhasil di lewati.

BANYAK-BANYAK TERIMA KASIH BUAT :
Allah SWT atas kesempatannya, Keluarga tercinta atas ijin perjalanannya, film turing inspiratif ‘LONG WAY DOWN’ ala Charley Boorman dan Ewan Mc Gregor (Nat Geo Channel), keluarga besar bro Irwan KHCC atas fasilitas inap dan substitusi P3K nya di Cirebon, bro Bubu KHCC yang terus saling monitor via SMS tentang situasi perjalanan di keberangkatan, member KHCC, RSA dan HCST atas supportnya, peta perjalanan mudik yang di-provide AHM-Wahana, Cybermudik hingga Indosat meski tidak sempat mampir di pit-stop nya, pemerintah daerah yang menyediakan aspal baik selama perjalanan, keluarga besar Soedomo di Kayumas Ambarawa, tempat-tempat ibadah saat mampir dan tukang penjaja makanan-minuman di jalur perjalanan dan lain-lain sebagainya yang sulit diingat untuk disebut satu per satu. Yang paling utama, thanks buat teman baik perjalanan, HONDA CITY SPORT ONE B 6193 KPL dan seluruh perlengkapan ‘Safety Riding’ maksimum dari INK s5, sarung tangan, jaket turing hingga dekker lutut-siku yang menjadi pengawal keselamatan perjalanan. Can’t wait to ride for the next journey. It’s the journey, not the destination. Enjoy it all by Riding Safely.

Advertisements

About this entry