DAY ONE <> BEKASI – CIREBON


Subuh pagi itu 28 September cuaca cenderung cerah untuk menemani perjalanan Bekasi – Cirebon yang sudah direncanakan matang sebelumnya. Izin jalan dari keluarga sudah dikantungi plus support dari rekan-rekan terdekat jadi modal berharga dalam perjalanan. Rute akan mengambil rute standar pantai utara (Pantura) *cek rute diatas*. Perlengkapan aman berkendara sudah terbalut mulai dari jaket turing, celana jeans, sarung tangan turing tebal, sepatu tomkins, protektor siku dan lutut scoyco plus helm baru Ink tipe s5 model trail dengan kaca bening. Terinspirasi petualangan bermotor ala Long Way Down nya Charley dan Ewan perjalanan kali ini akan coba dinikmati semaksimal mungkin, mulai dari kemacetan hingga melesat dengan kecepatan tinggi. Berbekal empat tipe peta untuk mengenal nama kota yang dilewati akhirnya perjalanan pun dimulai dari rute menyisir Kalimalang melintasi Tambun hingga Cibitung menuju Cikarang terus ke Cikampek. Iring-iringan motor pemudik sudah terlihat sejak masuk di jalan besar kota Bekasi, tampaknya teman seperjalanan akan membludak sepanjang perjalanan, 3 hari menuju hari H Iedul Fitri 1429 H.

Padat. Itu yang bisa dirasakan sampai-sampai tidak ada kata untuk kesalahan kalau tidak ingin terjerembab dan menggagalkan perjalanan. Maklum, perilaku negatif mayoritas pengendara ibukota sepertinya akan terbawa ke jalur mudik ini. Benar saja, salah satu pelaku berkendara zig-zag memaksa kendaraan lain kaget dan oleng yang efeknya justru menyenggol stang kendaraan sendiri. Sukses dua motor jatuh terjerambab dengan kecepatan yang lumayan cepat di jalur yang padat. Beruntung full protektor yang dipakai berhasil menahan rasa sakit dan luka akibat dengkul menggerus aspal. Seketika itu juga macet dan dibantu masyarakat setempat kami meminggirkan kendaraan masing-masing. Pengendara Tiger Revo yang hanya mengenakan sarung tangan model setengah harus mau menahan sakit dan luka dan boncenger nya pun tak luput dari cedera. Stok P3K pun keluar mulai dari perban, alkohol hingga plester, hanya ucapan hati-hati yang bisa disampaikan sambil beristirahat sekitar 15 menit memulihkan mental. Kecelakaan pertama yang seperti cukup menjadi pelajaran pentingnya atribut aman berkendara yang lengkap untuk sebuah perjalanan turing yang jauh. Perjalanan harus dilanjutkan sambil mengucap pisah ke pasangan yang masih beristirahat dari syoknya kecelakaan tadi. Ironisnya di jalur berlawanan terjadi lagi satu kecelakaan yang ternyata lebih berat dari yang baru saja kami alami. Alhamdulillah Yang Kuasa masih melindungi dan perjalanan pun berlanjut.

Di Cikampek Selatan inilah ‘crowd’ kendaraan sudah menyemut, warna hitam helm menumpuk terlihat di kejauhan tanda jalanan sudah mulai sumpek oleh bertumpuknya kendaraan yang merayap lambat. Jalur padat hingga Pamanukan dan benar-benar memakan badan jalan, motor harus rela tersisih karena kerap ada saja roda empat yang tidak mau berbagi. Bagaimana dengan bahan bakar ? jenis bahan bakar yang di konsumsi pun harus berganti-ganti dari Premium ke Pertamax karena memang ketersediaan Pertamax di jalur Pantura terbilang langka. Antrian panjang POM bensin pun menjadi warna tersendiri bagi motor yang butuh minum.

Jenis aspal di jalur hingga Pamanukan sebenarnya terbilang baik dan tidak ada lubang yang berpotensi bikin celaka, cuma memang kondisinya tidak bisa seratus persen dinikmati karena roda dua kadang harus tersingkir amat ke pinggir, badan jalan normal sudah tak cukup menampung kendaraan pemudik siang itu. Baru setelah melewati Pamanukan jalanan terlihat lancar, kemacetan terjadi lebih ke adanya pasar atau pom bensin. Lepas Pamanukan jalur terbilang lancar dan bisa dinikmati setelah sebelumnya berhenti ibadah di masjid yang banyak tersedia di jalur Pantura. Melaju tidak terlalu kencang hingga Cirebon dan sampai di titik temu dengan bro Irwan sekitar pukul 16 jika tidak salah ingat. Berarti perjalanan dari Bekasi memakan waktu tak kurang dari 10 jam. Di perjalanan seperti inilah ancaman dehidrasi senantiasa timbul jadi jangan sungkan untuk berhenti minum melepas dahaga demi menjaga mata tetap awas di tengah perjalanan. Laju bus-bus besar juga menjadi perhatian tersendiri, lengah sedikit saja tanpa cek spion akan membawa banyak perubahan situasi jalan. Belum lagi efek angin samping ketika melintas rute persawahan, kewaspadaan keseimbangan kendaraan juga harus jadi perhatian.

Setelah jalan panjang dan melelahkan, di Cirebon inilah akhirnya break panjang dilakukan hingga pagi hari, terima kasih buat bro Irwan dan keluarganya yang baik hati, malamnya dapet jalan-jalan keliling kota Cirebon, makan Somay plus melihat kencangnya 5 biker klub Tiger Cirebon melaju … ride safe bro ! Malam pun tidur nyenyak hingga pagi tiba.

(BERSAMBUNG … )

Advertisements

About this entry