Tarixx Jabrixxx ….


SAFETY FIRST !!! ………….. begitu teriak Cacing memberi komando buat CIko-Coki, Mulder, dan Dadang untuk bergegas membejek gas untuk kemudian berkendara lintas jalan raya kota Bandung. Cacing ga lupa untuk sejenak mengingatkan keberedaan helm, rem sampai spion. Grung … grung … asap 2 tak motor Cacing menemani Honda lawas milik Mulder dan Vespa antik milik si kembar Ciko dan Coki. Ciiitttttt ………. sembari menekan rem sekali lagi komando Cacing lantang terdengar, ada apa lagi ? oh .. ada wanita tua hendak menyeberang jalan. Saking lamanya wanita itu menyeberang Ciko dan Ciko lantas turun dan berusaha mempercepat langkah si nenek, yang lain gemas bergerak kesana-kemarin sebelum akhirnya memutuskan membopong si nenek ke seberang jalan. Itulah sedkit adegan dari film bernuansa ‘bikers’ berjudul THE TARIX JABRIX. Kisah edan 5 pengendara motor berusia remaja yang mencoba mencari jati diri sebagai pengendara motor yang beken setelah sebelumnya selalu tidak di untungkan oleh keadaan, semisal Cacing yang ditolak mentah-mentah ROAD DEVIL, Mulder yang disayang orang tuanya yang kaya raya, Ciko-Coki yang selalu gembira bersama-sama dan Dadang, seorang montir yang punya bawaan lupa ingatan jika sudah tertidur, ga aneh kalo buku catatan selalu dipegangnya.

Banyak cara untuk bisa meneruskan pesan kampanye AMAN BERKENDARA, salah satunya melalui cara visual melalui film yang dekat dengan keseharian masyarakat pada umumnya. Selain film layar lebar, bisa saja kampanye diselipkan melalui film layar kaca, film komedi, iklan layanan masyarakat hingga tv-tv plasma yang bertebaran di perempatan kota besar dengan lalu lintas padat nya. Ironisnya masih cukup banyak visualisasi yang sepertinya bertentangan dengan kaidah Aman Berkendara, dimana ternyata masyarakat umum lebih ‘ngeh’ dengan kesembronoan dan mengikutinya pada sifat sehari-hari saat berkendara, contohnya seperti menyepelekan fungsi helm yang benar atau sifat cuek pada aturan lalu lintas yang sudah demikian bagus dipasang di jalan raya. Film the TARIX JABRIX tadi tampil cukup menghibur seperti dikutip dari http://www.ruangfilm.com yaitu film ini mengusung beberapa pesan sederhana seperti mematuhi peraturan lalu lintas, safety riding, dan patuh kepada orang tua ternyata tidak membuat film ini menjadi garing dan membosankan.

Film tadi juga mengupas arti kekeluargaan (brotherhood) komunitas pengendara roda dua baik yang berisi pergaulan negatif maupun positif, tak lupa adegan percintaan yang pangkalnya adalah keberadaan seorang gadis cantik di antara dua kubu yang berbeda pandangan. Jika film ini dibandingkan pada sebuah video klip dari grup So7 yang menampilkan konvoi skutik minus perlengkapan Aman Berkendara maka film Tarix Jabrix ini menjadi film berpesan kan keselamatan yang jauh lebih bermanfaat ketimbang videoklip grup So7. Sepertinya materi pembuatan sebuah film yang di lengkapi dengan kendaraan bermotor terkadang terbentur dengan keinginan pihak produser untuk menampilkan wajah aktor dan aktrisnya secara jelas dan mengesampingkan aturan main berkendara yang dapat menyelamatkan nyawa manusia.

Tinggal bagaimana kita sebagai penikmat visualiasi sebuah film sebagai hiburan untuk memilih ingin jadi pengendara roda dua seperti apa kita saat berkendara di belantara jalan raya, jangan sampai menunggu ditilang atau menunggu dibungkus koran hanya karena bertindak sembrono di jalan raya.

Posted in Uncategorized.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s