Surfing the City with Matic


(Sabtu, 7 Juni ’08) Sebenernya sih yang muncul di kepala justru kalimat ‘Surfing the City with Vario’ tapi ubah deh ke matic karena tanpa sadar moda ini jauh lebih rileks dalam memanjakan kaki pengendara saat berkendara keliling kota, seperti yang gue lakukan paska meeting lanjutan event rally motor bertajuk Food Hunt. Apa itu Food Hunt ? Tanpa bermaksud membeberkan lebih awal soal event ini sebenarnya FH ini adalah tajuk yang disematkan buat event yang rencananya digelar bulan November 2008 nanti dan saat ini masih dalam tahap persiapan mulai dari rute hingga budgeting dan proposal yang notabene harus dipersiapkan hingga detil terkecil. Perubahan signifikan dari model acara hingga jumlah peserta memaksa gue dan tim memutar otak untuk mencari konsep rally dan kampanye yang lebih efisien untuk hinggap di kepala para peserta. Project JalanRaya dan rally yang tengah gue koordinir kini juga tengah membangun konsep yang nantinya tidak boleh merugikan peserta baik dari sisi waktu dan kondisi mengingat event rally ini harus bergandeng tangan dengan event kuliner karena partner kita kali ini datang dari komunitas ber-basis penggemar nuansa kuliner. Dah mungkin segitu aja soal FH yang bisa gue ceritakan.

Kelar meeting di bilangan Pondok Indah gue cabut jalan ke arah pulang untuk mampir di beberapa tempat terlebih dahulu. Mampir ? wah rada susah kalo dibilang mampir karena ternyata tempat persinggahan justru seperti lintas Jakarta mulai dari Taman Puring lalu ke Glodok dan Senen. Disinilah kegiatan ‘surfing’ itu berjalan. Lintas Jakarta berbekal Pertamax 15rb yang gue isi di POM Kalimalang benar-benar berjalan santai dan berusaha menikmati peliknya lalu-lintas Jakarta yang kadang terlihat semrawut di satu tempat dan terlihat lengang di tempat yang lain.

Taman Puring

Persinggahan pertama adalah pasar Taman Puring yang dah lama kepengen gue datangi. Tawaran menggiurkan yang katanya kita bisa dapet barang murah disini coba gue cek kebenarannya. Parkir di bibir trotoar depan Pasar lantas gue masuk area yang sebenarnya tidak terlalu besar itu. Pikiran pertama kali sih gue mungkin bisa dapet beberapa barang unik yang mungkin sulit dicari, tapi ternyata barang-barang yang hinggap di etalase pedagang tidak banyak menarik minat gue untuk membeli. Isinya mulai dari pedagang sepatu, tas, baju, parfum hingga gitar bekas dan alat-alat pertukangan tidak membuat gue tertarik dan hasilnya hanya coba mengenali pasar aja dengan mengelilingi seluruh sudut Pasar Taman Puring. Entah ini memang Pasar Taman Puring yang terkenal itu atau memang ada sisi lain Taman Puring yang belum atau tidak gue jelajahi gue juga ga tau karena Sabtu itu gue ga ditemani siapapun alias jadi solo rider.

Glodok

Puas sudah tau bentuk Taman Puring gue langsung memutar gas dan berseluncur melintasi Jakarta dari bagian Selatan menuju Utara yaitu Pusat Elektronik Glodok. Bicara Glodok memang banyak yang bisa didatangi, mulai dari penjualan vcd-dvd-software bajakan, elektronik murah, alat-alat pertukangan hingga aksesoris rumah seperti handle pintu, bak mandi, kloset dll. Kali ini tujuan gue cuma buat mencari cd Transformer the Game versi PC dan beberapa dvd bajakan. Bicara film bajakan Glodok ini sudah seperti surganya karena apapun film atau software yang dicari pasti tersedia duplikasinya. Sarang kejahatan yang hingga kini aman-aman saja dikonsumsi oleh ribuan pelanggannya. Soal film jangan harap dapet kualitas kelas wahid, dengan banderol 5000 per dvd pelanggan seperti membeli kucing dalam karung, terbukti dengan film Golden Compass yang gue beli justru ga bisa diputar di rumah, sisanya sih belum diputar/dicoba yaitu film Maradona, PS I Love You plus Rambo.

Kelar belanja di Glodok satu target lagi harus dikejar yaitu menuju Senen untuk mencari (lagi-lagi barang bajakan) yaitu peta lengkap Jakarta. Jalan terbilang lengang yang lucunya dengan gaya sok tau seluk beluk Jakarta alih-alih belok kanan ke Gajah Mada, motor justru gue belokkan ke kiri arah Mangga Besar. Gue pikir jalurnya simpel tapi malah jadi ribet karena ternyata jalur ini pertama kali gue ambil, jadillah gue ‘surfing the city with matic’ sepanjang Mangga Besar mulai dari pedalaman ruang tinggal penduduk Mangga Besar hingga stasiunnya yang ternyata muncul di arah Pasar Baru. Sepanjang jalan stasiun Mangga Besar itu pun ternyata banyak ‘berserakan’ kios-kios kecil para penjual barang-barang otomotif bekas mulai dari kaca spion dan pernak-pernik otomotif. Mau mampir tapi ga ada yang dicari.

Lepas Pasar Baru sampailah di Senen untuk mencari peta lengkap Jakarta. Sudah banyak yang tau bahwa sisi kiri jalan Senen menuju Atrium banyak penjaja buku murah alias bajakan yang ramai menawarkan barangnya. (Mungkin) Gue yang terlihat datang dengan muka butuh sampai-sampai ditawarkan banyak opsi peta mulai dari yang ratusan ribu (peta plus CD) sampai hanya yang berupa poster saja. Tidak banyak sangu yang ada di dompet akhirnya gue lebih memilih versi poster yang mudah-mudahan aja gue ga dikibuli harganya. Ya sudahlah, gue siang menjelang sore itu juga ga punya banyak waktu untuk lebih mencari hingga ke pelosok pedagang buku di Senen.

Letih berkendara plus tambahan bensin saat pulang sedikit banyak memuaskan gue soal berkendara dengan matic dan pemuasan rasa penasaran beberapa tempat yang tadi gue singgahi. Kalo ga salah hitung sih sudah total kurang lebih 100 km gue berkendara hari itu mulai dari Bekasi – Pondok Indah – Taman Puring – Senayan – Glodok – Pasar Baru – Senen – Cempaka Putih – Klender hingga kembali ke Bekasi. Lelah kaki ? Tidak tuh karena fungsi kaki benar-benar dimanja oleh moda matic yang gue pakai seharian. Si Redd memanjakan tuannya.

Pulang dan tidur bentar.

dok : pribadi

Advertisements

About this entry