"Cumi-cumi", kata Pak Dayat




Bagi sebagian pengendara, pandangan terhadap profesi tukang tambal ban kadang mendua, ada yang benar-benar mensyukuri kehadirannya disaat ban mengalami masalah sampai ada yang mengutuk karena menduga ini hanyalah akal-akalan para tukang tambal ban demi mengeruk secarik kertas puluhan ribu dari para pengendara. Hingga saat ini banyak milis-milis otomotif yang selalu mengirimkan pengalaman pecah ban hingga titik-titik yang harus diwaspadai agar tidak berurusan dengan tukang tambal ban. Alternatif menghindari hilang angin secara spontan dapat saja diakali dengan penggunaan ban versi tubeless ketimbang versi “tube type” yang secara tiba-tiba dapat langsung hilang tekanan di tengah jalan. Ujung-ujungnya jika terkena paku pun pasti akan berakhir di tukang tambal ban, kalaupun tidak pasti akan lari ke toko aksesoris untuk mendapatkan ban baru.

Dilihat dari produk di pasaran memang banyak ban-ban merk unggulan yang konon dapat menunjang akselerasi hingga dipercaya kuat masa pakai. Tapi jangan merasa lebih unggul jika suatu saat paku model apapun tertancap di ban anda. Merk boleh unggulan tapi kekuatan penjahat paku pasti akan membuat kita termehek-mehek dan mengutuk.

Bicara tambal ban bagi pemilik ban tubeless, metode penambalan dengan karet nilon coklat pasti sudah diakrabi. Cukup bermodalkan karet nilon coklat, besi penusuk ban dan lem, masalah ban bocor pasti cepat selesai. Lain halnya jika kendala karet nilon tadi mendadak habis stok. Lihatlah usaha Pak Dayat, seorang penambal ban yang ditemui tim JR pagi ini (13/05) sambil berkata agar metode ini tidak disampaikan ke majalah-majalah. Melihat seorang pengendara yang meminta tolong sementara stok karet nilon habis memaksaPak Dayat mencari akal. Sampai akhirnya mendapati metode ini, yaitu mencari ban dalam bekas dan mengguntingnya kecil-kecil membentuk rumbai-rumbai yang disebutnya model cumi-cumi. Rasa iba dan harus menolong pelanggan lah yang membuat alternatif sederhana ini diyakini sukses untuk menutup lubang yang dihasilkan sebuah paku. Alat-alat yang dipergunakan pun sama persis hanya sebuah karet ban bekas model cumi-cumi lah yang menjadi pengganti karet nilon. Metode nya pun sama dengan menancapkan potongan karet ban tadi ke lubang yang ada pada ban setelah sebelumnya dilumasi lem karet.

Metode ampuh ini tetap diyakini bakal mampu menggantikan sementara metode tambal dengan karet nilon. Harga 15.000 rupiah pun rasanya cukup pantas diberikan atas usaha Pak Dayat ini. Di sepanjang rute itupun jarang terlihat penyebaran paku secara serampangan yang membuat kita pasti coba berpikir bahwa usaha tambal ban yang Pak Dayat lakukan cukup bersih dari usaha yang tidak halal.

Posted in Uncategorized.

One thought on “"Cumi-cumi", kata Pak Dayat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s