Day Seven #2Ride7Adv


Photobucket

Saya teringat cerita yang disampaikan mbak Maria Ekaristi semalam (20/5) tentang begitu banyaknya pantai bagus yang ada di sekeliling pulau Bali. Bahkan katanya waktu seminggu pun tidak akan cukup untuk menikmati eksotisme yang kuat dari pantai-pantai di pulau Dewata ini. Saat itu, hari ke 7 (21/5) saya pun bergerak untuk sekali lagi mengujungi Tanah Lot, salah satu destinasi populer di Bali yang pertama kali saya kunjungi sekitar tahun 1996.

Sementara rekan saya Hendrawan asik sendiri dengan perjalanan utara Bali nya maka saya pun coba menikmati setiap jengkal kilometer yang saya lewati menuju ke Tanah Lot melalui jalur Jimbaran.

Terletak di desa Berabang di Tabanan Bali, Tanah Lot memang memiliki ke-khas-an bentuk pura yang berada di pinggir pantai curam. Sudut yang menarik untuk pengambilan gambar bagi siapapun yang datang ke Tanah Lot.

Photobucket

Photobucket

Photobucket

Lepas dari Tanah Lot, saya memutuskan untuk menyusuri Canggu, Kerobokan lalu berbelok ke Sunset Road hingga iseng berputar ke Seminyak, Legian, Kuta lalu susur Jl I  Gusti Ngurah Rai, masuk jalur Jimbaran, Kampus Udayana dengan tujuan daerah Ungasan. Ada apa di Ungasan?

Lagi-lagi, atas referensi pak Ija rekan saya di Nusantaride saya mencoba mendatangi salah satu pantai tersembunyi di selatan Bali, pantai Kutuh di Ungasan namanya. Yang membuat pantai Kutuh ini menarik -setidaknya yang saya lihat di catatan perjalanan pak Ija- adalah lokasinya yang saya pikir cukup menarik. Saya sempat ber adu argumen sendiri dengan hati karena jam sudah menunjukkan pukul 4 sore. Waktu yang sangat terbatas agar tidak lantas terjebak di kegelapan saat kembali ke Kuta. Berbekal GPS saya pun bergerak mengikuti arah koordinat S8°50’42”, E115°11’8″.

Keren. Begitulah impresi pertama saat menemukan jalan masuk ke pantai Kutuh. Rumah-rumah penduduk tampak teduh ditemani pohon-pohon besar di sekelilingnya. Lepas dari pemukiman mulai tampak batu-batu cadas dan tebing. Mengikuti jalan akhirnya saya masuk ke pelukan Tebing Kutuh, begitulah penduduk setempat menyebutnya. Matahari sudah tampak ingin segera pergi tidur. Saya harus cepat di atas pantai.

Photobucket

Photobucket

Gerbang dari tebing tampak gagah sekaligus eksotis. Cukup sepi sore itu, tampak dari kejauhan beberapa pondokan dengan lokasi pengembak biakan rumput laut. Konon pantai nya pun kondang sebagai lahan surfing di mata surfer mancanegara. Belum sepopuler pantai kelas wahid lain di Bali tapi ke tidak populeran itulah yang tampak menarik di mata pejalan yang mencari suasana yang berbeda.

Photobucket

Lepas dari pantai Kutuh akhirnya saya pun kembali ke Kuta untuk menginap dan esok hari nya adalah waktunya saya dan Hendrawan kembali ke tanah Jawa.

(bersambung..)

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s