Mengunjungi Bula Pulau Seram


bula02

Kesempatan berharga saya dapatkan medio Januari 2011 lalu. Jika biasanya tugas berkutat pada kota-kota yang cukup akrab di telinga kini hadir kesempatan untuk mengunjungi satu kota bernama BULA. Dimana itu ? Koordinat tepat lokasi bandara Bula ada di S3 06.447 E130 30.319. Sebuah kota di Utara pulau Seram dan membutuhkan perjalanan kurang dari satu jam dari bandara Pattimura Ambon Maluku menggunakan pesawat kecil milik Deraya Air. A new trip for me.

17 – 19 Januari 2011, saya bersama rekan instruktur / assessor mengunjungi kota Bula di Pulau Seram untuk kepentingan Road Assessment atas request klien dari Citic Seram. Citic Seram sendiri adalah perusahaan penambangan minyak yang solid ber eksplorasi di tanah Pulau Seram. Yah disini saya tidak menjabarkan detil apa yang saya kerjakan disana tapi lebih soal penggambaran kota Bula yang berhasil saya tangkap.

bula05

Menggunakan penerbangan pagi Batavia Air akhirnya pada 17 Januari saya menuju Ambon melalui titik transit Surabaya. Perbedaan waktu dua jam lebih cepat dari Jakarta tidak serasa signifikan, potensi terjadi jet lag tidak perlu di khawatirkan. Paska mendarat di Pattimura Ambon Maluku perjalanan di lanjutkan menggunakan pesawat kecil milik Deraya Air menuju Bula Pulau Seram. Saya yang biasanya merasa nyaman dengan pesawat berbadan besar kini harus ketar-ketir menggunakan narrow mini body milik Deraya Air. Ketinggian tak lebih dari 2000 m di atas permukaan laut.

Penerbangan sedikit menghibur dengan hamparan lautan biru sepanjang penerbangan. Sisi luar pulau-pulau di timur Indonesia terpetakan di mata dengan sangat indah. Hamparan keindahan tadi terpampang jelas karena memang ketinggian pesawat yang terhitung rendah di bawah dimensi awan langit. Tak heran jika harus bergumul dengan awan pesawat akan sedikit terasa limbung menahan guncangan. Hitunglah seperti layaknya bermain pontang-panting di Dunia Fantasi. Jika anda memiliki kesempatan kesana maka pastikan tempat duduk selama penerbangan ke Bula anda berada di sisi kiri pesawat, saat pulang berarti pilih sisi kanan. Pemilihan seat ini menjadi baik karena sepanjang perjalanan anda dapat melihat pulau dan pantai-pantai indah dari ketinggian.

Dari rumah sekitar jam 3 pagi, dan hinggap akhirnya di kota Bula pada jam 5 waktu setempat … *lupa-lupa ingat jam nya. Deraya Air mendarat mulus di bandara Bula dan perjalan pun dilanjutkan menggunakan bus perusahaan Citic Seram menuju camp yang akan jadi tempat tinggal saya sementara dalam 3 hari. Sampai lah saya di camp Citic Seram, camp berwujud puluhan container besar yang disulap menjadi kamar tidur lengkap dengan kamar mandi dan AC.

Bagaimana dengan komunikasi seluler ? Yang menyala di camp hanya provider Telkomsel, itu pun masih byar pet meski kabarnya sudah didukung repeater. Indosat masih bisa diandalkan dari area bandara Bula karena masih menangkap sinyal penuh. Untuk kali ini terpaksa saya berbekal kartu As yang saya beli di Ambon demi tetap menjalin komunikasi dengan permaisuri nun jauh disana. Andai dia bisa saya bawa serta berkunjung ke pulau misterius nan liar ini tentunya pengalaman akan menjadi tambah indah. Sepenglihatan saya memang Bula masih memiliki keterbatasan eksplorasi wisata. Mungkin lain kali saya bisa eksplorasi lebih lanjut.

Silakan dinikmati beberapa gambar tangkapan saya berikut ini dan selamat menikmati sebelum saya ajak anda melihat dokumentasi hari-hari berikutnya :) .

bula03

bula04

bula12

bula06

bula07

bula08

bula09

bula11

About these ads

17 thoughts on “Mengunjungi Bula Pulau Seram

  1. bung saya mau ke bpulau gorong & kata temenku kalau mau kegorong harus ke bula dulu… trus lanjut speedboat ke gorong…
    pesawat ambon bula harga tiketnya berapa???/
    sama transport dari bula ke gorong naik apa???
    mohon petunjuk…
    thx

  2. Pingback: Dokumentasi Sisa Bula Pulau Seram « [ berbagi ]

  3. bung andry apakah ada penerbangan reguler dari ambon ke kota bula. sebab bung andry dicommentnya kok menyebut pesawat kecil tapi charteran. mohon info

    • coba email ke bowo.ithem@gmail.com seperti info komen di atas ..

      sepengetahuan saya kemarin penerbangan Bula-Maluku setiap hari ada tapi hanya 2x sehari, setiap hari kecuali hari Sabtu.

      Penerbangan stand by di Bula via Deraya Air, tiket kurangtau karena kesana untuk tugas kerja, jadi free

      mengenai Bula – Hoti mohon maaf saya kurang tau soal transportasi daratnya.

  4. thanks for sharing a village where i was born, a village where my grandfather built the infrastructure and most of my families are still living there. in 80’s and 90’s it was not easy to introduce yourself as a bula-born kid to those who live in a big city like jakarta. again, thanks a lot.

  5. kalo ga salah sampai sekarang nda ada pesawat komersil yang melayani ambon-bula, kalo deraya hanya untuk pihak perusahaan, yaitu, citic ada juga dari perusahaan kalrez..tapi bagi non pihak perusahaan bisa juga menikmati penerbangan tersebut kalo g salah ada 2 sheet. banyakan untuk pihak pemerintahan, tp kalo mau medivac bisa juga..untuk ke bula sekarang sudah bisa dengan jalan darat, ada bis 3/4 ataupun minibus,bisa juga lewat laut naik kapal kayu, tapi lupa namanya…ada juga kapal pelni namanya pangrango, saya ga tau kondisi terakhir, masih melayani ato tidak, ada juga kapal perintis yang melayani sampai pulau geser dan gorong…

  6. Apakah CITIC punya pelabuhan sendiri yang lengkap dengan peralatan bongkar muat-nya, seperti Shore Crane dsb. Dan apakah punya nomer telepon Citic di Pulau Seram ? tx

  7. Bula bisa di tempuh melalui jalan darat Ambon via Ferry Masohi ditempuh sehari semalam melalui trans Seram semi offroad, sekarang pasti lebih mulus..jalanan hancur sejak jatuhnya Orba dan kerusuhan 1999 – 2001.(dampak kerusuhan hingga Bula – Nif, 5 tahun lalu masih tersisa reruntuhan, bahkan ex camp Satgas Posko Yonif dari Kebumen yang mengamankan Bula arah ke timur masih terlihat coretan2nya, bangkai bangunan2 nya menunjukan kehancuran Bula), sejak menjadi Kabupaten Dati II, Bula mulai di benahi besar2an.
    Saya pernah tugas di sana membuka kilang minyak Kufpec Kuwait ( skrg Citic). Hutan, flora fauna, mirip2 Papua, bahkan Malarianya..saya kena 2 kali
    Tarif Deraya SD 33 untuk umum (dulu Pelita Air C212/Merpati Twin Otter) sekitar 600 rb.dari Ambon atau Sorong Papua.
    Lautnya..sebagian besar seperti taman laut…cuma Hotel ga ada yang memadai, paling kelas Melati non A/C, maklum hingga 2005 PLN hanya mengandalkan Genset Tua yang kami bantu overhaul 2003, penginapan okay…yang bagus cuma Campnya Kalrez ( Dulu Santoz), Punya Citic masih terkesan Asrama portacamp khas pekerja..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 85 other followers

%d bloggers like this: